Title
: Love Disaster (Part 1)
Scriptwriter
: HanaYuki13
Main
Cast : Kai EXO, Key SHINee, and OC.
Genre
: Fantasy, Romance, Tragedy, School Life.
Length
: Series
Rating
: PG-15
Summary
:
Harusnya aku tidak pernah meminumnya….
Harusnya aku tidak pernah…
Pandangan mataku kabur. Samar samar, aku melihat bayangan hitam.
Dewa
kematian kah? Sudah kuduga…dia akan datang…
*Han
Hyora PoV*
Dia
lagi. Perasaan ini lagi. Detak jantung yang sama lagi.
Lee
Taemin. Pria itu benar-benar telah merebut hatiku sepenuhnya. Membuat kupu-kupu
bertebrangan di perutku setiap kali aku melihatnya. Begitu indah, dan menyiksa.
Kami,
seperti biasa, sedang berlatih menarikan lagu baru yang akan SHINee nyanyikan
selanjutnya. Dan mataku tak juga lepas dari Lee Taemin. Aku yakin ini karena
mataku yang telah dibutakan oleh cinta karena apapun yang dilakukan Taemin
benar-benar terlihat indah di mataku. Dan aku mulai tersenyum sendiri saat
seseorang menyenggolku.
“Lee
Taemin lagi? Yaa~ Han Hyora kau benar-benar! Seberapa besar sih kau mencintai
laki-laki itu?” Seru Kim Yura, orang yang menyenggolku.
“Cinta?
Yak apa maksudmu!?”
“Ckckckck…
Ya! Tak usah menyangkalnya! Semua orang disini tahu kau memiliki perasaan
kepada Taemin. Kau terlalu jelas menunjukkannya! Dasar babo!” Ucap Yura sembari
mendorong jari telunjuknya di pelipisku di akhir kalimatnya.
“Jinjja?” Tanyaku ketakutan. Berarti Taemin juga…
“Eo! Taemin juga tahu! Sampai kapan kau mau begini? Benar-benar
menyedihkan. Setelah latihan selesai temui aku, ada sesuatu yang perlu
kusampaikan.” Tukas Yura yang lalu berjalan menuju ke tengah ruangan untuk
mengajak anak-anak agar kembali berlatih. Beberapa mengeluh, namun akhirnya
latihan kembali dimulai. Aku tertegun sejenak. Apa yang ingin dia sampaikan padaku?
***
*Han
Hyora PoV*
“Mwo!?
Aniya! Tidak akan pernah!” Pekikku segera.
“Ssst…!
Yak, jangan berbicara keras-keras! Orang lain bisa mendengarmu!” Seru Yura
seraya meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
“Biar
saja! Biar semua orang tahu apa yang kita bicarakan!”
“Yaa,
jangan begitu! Tak ada salahnya mencoba kan? Ayolah~ Kalau tidak sampai kapan
cintamu pada Taemin akan tersampaikan?”
“Tersampaikan
apanya? Kau hanya mencari-cari alasan supaya aku mau ke tempat terkutuk itu!
Aniya! Tidak akan!”
“3
hari! 3 hari dan Taemin akan jatuh cinta sepenuhnya padamu! Bukankah itu yang
kau inginkan? Ayolah~ aku benar-benar ingin ke tempat itu tapi aku terlalu
takut datang sendirian. Kumohon tolong aku, kali ini saja!” Pinta Kim Yura
seraya merengek padaku.
“Kalau
begitu kau bisa meminta orang lain untuk datang ke tempat itu bersamamu! Kenapa
harus aku?”
“Kau
satu-satunya orang yang bisa kupercaya! Jebal, ini permintaan sekali seumur
hidup! Eo? Setelah itu aku akan melakukan apapun yang kau minta! Aku janji!”
Aku terdiam sejenak. Sedikit tersentuh juga melihat Kim Yura
memohon dengan benar-benar seperti itu. Han Hyora! Pikirkanlah! Dengan
mendatangi tempat itu kau bisa membuat Lee Taemin mencintaimu, hebat bukan?
Terlebih lagi, Yura bersedia melakukan apapun yang kau minta setelah itu. Tidak
buruk. Aku melihat
Yura yang menatapku dengan tatapan memohon.
“Arasseo.
Tapi hanya kali ini saja. Lain kali tidak akan lagi!”
“Yess!
Sudah kuduga kau memang yang terbaik Han Hyora!” Sorak Kim Yura senang. Aku
segera meletakkan jariku di bibirnya.
“Ya!
Pelan-pelan! Kau mau orang lain mendengar pembicaraan kita!?”
“Eo…”
Bisik Yura kemudian dengan senyum menghiasi bibirnya.
***
*Han
Hyora PoV*
“Kau
yakin ini tempatnya?”
“Tentu
saja! Biarpun terlihat seperti gedung tua yang terlantar di dalamnya
benar-benar ada orang yang kubicarakan denganmu tadi. Ayo masuk!”
Aku
melangkah memasuki gedung tua tersebut. Memang benar, satu dua langkah memasuki
gedung itu kita bisa melihat sebuah pintu yang memiliki aura misterius dengan
tempelan semacam boneka santet di depan pintu tersebut. Aku memegang tangan
Yura.
“Ya,
aku memiliki firasat buruk tentang ini…” Ucapku dengan nada gemetar.
“Aku
juga takut. Tapi mau bagaimana lagi? Kita sudah sejauh ini. Ayolah, ayo masuk!”
Seru Yura sembari menarik tanganku menuju pintu tersebut.
Pintu
terbuka. Di dalamnya kami bisa melihat seorang wanita yang kira-kira berumur 40
tahunan dengan rambut keriting sebahu dikuncir dua dengan hiasan rambut di
atasnya. Dia memakai kacamata bulat dengan bibir melengkung ke bawah. Di
samping kiri dan kanan tempat wanita itu duduk terdapat deretan lemari yang
berisi ramuan-ramuan di dalam botol-botol kecil. Ruangan ini memiliki aroma
yang sangat aneh, membuat bulu kudukku berdiri.
“Apa
yang kalian lakukan berdiri saja disana? Cepat masuk!” Seru wanita itu.
Suaranya terdengar serak seperti serak seseorang yang sering meminum darah.
Kami
melangkah masuk. Dan baru saja kami mengambil tempat duduk begitu tiba-tiba
pintu yang berada di belakang kami tertutup dengan keras. Aku langsung berbalik
begitu juga Yura. Mukaku memucat. Kau takkan tahu betapa ketakutannya aku
sekarang ini.
“Baiklah..jadi
apa yang kalian inginkan sehingga datang ke sini?” Tanya wanita itu.
“K…kenapa
pintu itu tertutup?” Tanya Yura gugup.
“Pintu
itu takkan terbuka sampai aku mengizinkannya. Sekarang jawab pertanyaanku!”
Perintah wanita itu membuat aku dan Yura menelan ludah.
Aku
dan Yura terdiam. Sama-sama tidak memiliki keberanian untuk mengangkat suara
kami.
“Ya!
Kalian tidak mendengarku?” Serunya membuatku tersentak kaget.
“Ki…kita
datang kesini untuk meminta ramuan yang membuat orang lain jatuh cinta pada
kita.” Aku mengangkat suara.
“Begitu
rupanya…jadi siapa yang kau ingin buat jatuh cinta padamu?” Sahutnya seraya
tersenyum lebar. Menatapku dan Yura dengan mata bersinar-sinar.
“Aku
Lee Taemin.” Ucapku tertahan sembari mengeluarkan foto yang sudah kusiapkan
sedari tadi. Wanita itu memperhatikan foto tersebut dengan alis berkerut.
“SHINee?”
Tanyanya kemudian.
“Arayo?”
“Tentu
saja! Biarpun begini aku juga tidak ketinggalan trend anak muda di Korea!”
Serunya seraya tersenyum lebar membuat rasa takutku dan Yura sedikit berkurang.
“Dan temanmu?”
Aku
menoleh pada Yura. Sebenarnya aku penasaran setengah mati siapa orang yang
ingin Yura buat jatuh cinta karena dia tidak membawa fotonya padahal katanya
itu adalah salah satu syarat yang diharuskan untuk membuat ramuan cinta. Begitu
kutanya yang dikatakannya hanyalah ‘Nanti kau juga tahu’ sembari tersenyum
penuh misteri.
“Aku…ingin
membuat semuua laki-laki tampan mencintaiku!”
Aku terkesiap. Dia pasti sudah gila!
“Ya!
Kau gila ya?” Bisikku sembari menyenggol Yura. Dia hanya tersenyum tanpa
menjawab pertanyaanku. Kulihat wanita itu juga terkejut sepertiku.
“Kau
yakin?” Tanya wanita itu dengan mata terbelalak. Yura mengangguk mantap sembari
tersenyum evil. “Ya, kau tahu kan? Ramuan ini bisa membuat semua laki-laki
tampan cinta MATI padamu! Mereka takkan bisa mencintai wanita lain setelah itu!
Jangan menganggap ini sebagai main-main! Ingat, tak ada ramuan penawarnya!
Setelah kau meminumnya semua akan berakhir!”
“Apa
maksud Ahjumma dengan semua berakhir? Bukankah itu berarti awal yang baru? Aku
benar-benar yakin dengan ini. Lagipula sudah sangat lama aku ingin
dikejar-kejar banyak lelaki!” Tuturnya dengan nada mantap. Aku hanya
terperangah melihatnya. Dia sudah sangat
cantik. Untuk apa meminta hal seperti ini?
Wanita
itu terperangah cukup lama sebelum akhirnya mengangkat suara. “Baiklah. Tapi
jangan sampai menyesal dengan apa yang sudah kau putuskan! Ingat, ini
keputusanmu sendiri!”
“Eo!”
Serunya dengan senyuman puas.
Wanita
itu kemudian berjalan menuju rak berisi ramuan berwarna ungu. Dia mengambil dua
botol, botol berisi ramuan berwarna ungu terang dan ramuan berwarna ungu yang
biasa-biasa saja. Dia kemudian mengangkat suara. “Karena Lee Taemin juga
tampan. Akan sangat susah memisahkannya dari ramuan yang satu ini..” Dia
menunjukkan ramuan yang berwarna ungu terang. “Tapi tenang saja. Aku sudah
sangat berpengalaman dengan hal ini dan ini bukan apa-apanya bagiku. Kalian
mungkin harus menunggu cukup lama karena aku akan meracik ramuan ini terlebih
dahulu. Call?”
“Call.”
Ucapku dan Yura bersamaan.
Wanita
itu kemudian berjalan ke balik tirai warna merah. Aku langsung menggenggam
lengan Yura sembari menatapnya tajam. “Kau pasti benar-benar sudah gila! Apa
yang akan kau lakukan dengan semua laki-laki tampan yang akan mengejarmu!?”
“Aku
PHP-in tentu saja.” Ucapnya dengan senyuman evil. “Aku hanya akan menerima yang
paling tampan untuk menjadi suamiku. Sudahlah, bukankah ini keputusanku?
Kalaupun aku akan menyesal aku yang akan merasakannya bukan kamu! Aku sudah
memimpikan ini sejak sangat lama, jadi jangan hentikan aku!”
“Lakukan sesukamu!” Tukasku dengan nada kesal. Tak kusangka aku memiliki teman segila ini!
Kami
menunggu selama beberapa puluh menit sebelum akhirnya wanita itu kembali dengan
membawa dua botol. Aku agak kaget melihat warna ramuan di dalam botol itu
menjadi sama. Ungu terang, tapi tidak seterang yang pertama kali kulihat.
Botolnyapun sama. Yang membedakan hanya warna tutup botolnya.
“Cha~
ini dia! Yang tutup botolnya berwarna merah adalah milikmu..” Dia menunjukku.
“Dan yang tutup botolnya berwarna kuning adalah milikmu!” Dia menunjuk Yura.
“Kalian akan mengetahuinya setelah meminumnya. Ramuan untuk semua pria tampan
mencintaimu akan sangat menyengat. Ingat! Jangan coba-coba mencampur ramuan itu
atau saat meminumnya kalian akan meninggal!”
“Eo…eo!”
Ucapku dan Yura bersamaan.
“Dan
ingat! Aku mengatakan ini karena aku juga tidak ingin masuk penjara karena
pekerjaanku. Setelah kalian meminum ramuan ini kalian harus memakan mawar dalam
jangka waktu 1 hari setiap harinya atau kalian akan meninggal apabila kalian
tidak makan mawar selama 3 hari berturut-turut! Ingat itu! Dan….bayarannya?”
Wanita itu mengangkat tangannya menunjukkan gerakan meminta uang.
“Eo!
Aku hampir lupa! 500.000 won (sekitar 5 juta rupiah), seperti yang kau minta!”
Seru Yura seraya mengeluarkan amplop tebal dan meletakkannya di atas tangan
wanita itu. Pintu di belakang kami tiba-tiba terbuka.
“Silahkan
keluar.” Tukas wanita itu sembari tersenyum ramah. Aku dan Yura kemudian
melangkah keluar…
***
*Han
Hyora PoV*
Aku
dan Yura sedang berdiri di sebuah gang buntu yang jarang dilewati orang-orang.
Memegang botol yang Yura beli di tempat paranormal yang kami datangi tadi.
Yura
menghirup nafas dalam dan menghembuskannya kembali sebelum mengangkat suara.
“Siap? 1…2….3!”
Kami
meminum ramuan itu secara bersamaan. Setelah habis. Aku tercekat.
Tunggu! Kenapa milikku terasa sangat menyengat?
“Isanghane,
kenapa punyaku tidak terasa menyengat sama sekali?” Ucap Yura sembari mengecap
ramuan yang sudah diminumnya berkali-kali. Wajahku memucat. Segera setelah itu,
Yura menatapku sembari membelalakkan matanya. “Neo…jangan bilang milikmu…”
“Kurasa…ramuan
kita tertukar…”
Hening.
Yura dan aku tenggelam ke dalam pikiran kita masing-masing. Wajah kami memucat.
Tidak lama kemudian, Yura melangkah ke luar gang dengan langkah panjang-panjang
sembari mengangkat lengan bajunya.
“Penyihir
terkutuk itu benar-benar! Dia benar-benar akan MATI!!”
“YURA-YA!”
Panggilku seraya mengejar langkah panjangnya. Meski aku tahu aku takkan pernah
bisa mengejarnya karena Yura berjalan sangat cepat.
Ini gawat!!
***
*Han
Hyora PoV*
Kami
sudah sampai di depan gedung tua yang kami datangi tadi. Aku terus mengejar
langkah Yura. “Yura-ya! Sudahlah! Kalau aku jadi paranormal itu aku juga takkan
bisa membedakan ramuan mana yang milikku dan milikmu! Tidakkah kau lihat warna
dan botol ramuan kita sama?”
Tentu
saja aku mengatakan hal itu tidak dengan sepenuh hati. Penyihir tua terkutuk.
Yura
tidak membalas kalimatku, dia terus melangkah memasuki gedung tua tersebut dan
kami akhirnya sampai di depan pintu tadi. Yura buru-buru membanting pintu itu
dan berteriak.
“YA!!!”
Ini buruk.
Paranormal
yang dimaksud segera berdiri dan mengambil langkah mundur. Kurasa dia tahu
alasan dari kemarahan Yura. Penyihir tua terkutuk.
“W..wae?
Kenapa kalian kembali?” Tanya Ahjumma itu dengan raut wajah ketakutan.
“Tak
usah pura-pura tak tahu! Bukankah kau bilang kau sudah ahli dalam bidang ini!?
Untuk membedakan ramuanku dengan ramuan temanku saja kau tidak bisa!! Aku bisa
melaporkanmu ke polisi, ara!?” Bentak Yura penuh amarah.
Wanita
itu tertawa menunjukkan deretan giginya yang hitam.
Terkutuk.
“Keurae?
Kau ingin melaporkannya ke polisi? Lalu apa yang akan kau katakan? Karena ramuanmu
yang harusnya membuat pria-pria tampan jatuh cinta padamu tertukar dengan
temanmu? Kau tahu apa yang akan para polisi itu katakan padamu? Pelacur!”
Serunya seraya tertawa lagi. Membuat kemarahan Yura dan aku memuncak.
Sialan. Dia mengatai temanku pelacur!
“YAAAAA!!”
Yura segera berlari menuju tempat wanita itu berdiri. Wanita itu tanpa berpikir
panjang lagi segera menjatuhkan lemari berisi ramuan berwarna ungu. Ramuan
cinta. Kurasa dia sudah tak membutuhkannya lagi.
“Mendekat!
Ayo mendekat! Kita lihat apa kau bisa melangkah melewati pecahan kaca ini!”
Seru wanita itu dengan nada mengejek.
Yura
terdiam. Bimbang. Wanita itu kemudian menjulurkan lidahnya sembari memiringkan
kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Lihat
bagaimana wanita terkutuk itu mengejek temanku. Aku benar-benar berharap dia
mati sekarang juga.
Aku
tidak bersungguh-sungguh.
“Dasar
kau penyihir terkutuk! Kau tidak tahu apa yang telah kau buat!? Karena kau
temanku terlibat masalah besar! Kembalikan 500.000 won ku!! Pal…”
“YAAAAAA!!”
Yura terdiam seketika begitu wanita itu berteriak. Raut wajah wanita itu
menunjukkan amarah yang luar biasa. “Kau pikir kau saja yang rugi!? Karena kau
aku tidak bisa lagi membuat ramuan cinta kepada orang-orang yang menginginkan
pria tampan! PIKIRKAN BETAPA RUGINYA AKU!!!!”
“Hah!
Marah?? Kau marah? SETELAH KAU MENIMBULKAN MASALAH SEBESAR INI KAU MASIH BISA
MARAH!!? DASAR PENYIHIR TERKUTUK!!!” Tanpa pikir panjang lagi Yura segera
menghampiri wanita itu dan melangkah dengan menginjak lemari yang jatuh tadi.
Dia memang memakai sepatu, tapi kurasa dia masih takut dengan pecahan kaca yang
mungkin akan menembus sepatu kulitnya.
“Yura-ya!
Hati-hati!” Ucapku. Namun Yura sepertinya tidak mempedulikannya karena dia
malah menjambak rambut wanita itu dan merusak hiasan rambutnya.
“YAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”
Wanita itu berteriak sangat keras sebelum akhirnya balas menjambak rambut Yura
dan mencakar wajahnya.
Gawat.
Yura bisa dalam masalah besar kalau sampai ada luka yang tersisa di wajahnya
ataupun pecahan kaca yang terkena kakinya.
“KEUMAN!!!”
Teriakku sekencang mungkin. Tapi mereka tidak juga berhenti.
Mereka
saling menjambak, mencakar, dan menyumpah sampai aku menghampiri mereka berdua
dan berusaha keras memisahkan mereka meski akhirnya rambutku yang menjadi
korban.
“KEUMANHAE!!”
Teriakku lagi. Lalu tanpa pikir panjang aku langsung menarik tangan Yura
melewati lemari yang jatuh tadi. Yura berusaha keras melepas genggaman tanganku
dan menghampiri wanita itu, tapi tenaganya tidak sebanding denganku.
Kulihat
wanita itu menangisi hiasan rambutnya yang terjatuh dan tercerai berai
kemana-mana sebelum aku menyeret Yura melangkah keluar dari ruangan terkutuk
ini.
“Mwohae!?
Aku harusnya menyeret nyawa penyihir tua terkutuk itu ke neraka terlebih dahulu
kalau kau ingin membawaku pergi!”
Aku
tak menjawab. Yura sepertinya makin kesal denganku karena dia kembali berusaha
keras melepas tangannya dariku. Gagal.
Setelah
kurasa kami sudah berada di tempat yang cukup jauh dari gedung tua itu, aku
berhenti.
“Ya!
Untuk apa kau pakai otakmu itu hah!? Kalau sampai ada luka yang tergores di
wajahmu atau pecahan kaca yang terkena kakimu bagaimana!? Bagaimana kalau kau
tidak bisa menari lagi untuk sementara waktu!? Harusnya kau tidak egois dan
begitu mudahnya termakan amarah i babo-ya!!” Bentakku segera setelah itu.
Yura menatapku dalam. “Mwo!? Apa yang ingin kau katakan setelah melihat
kelakuanmu itu hah!?”
“Mianhaeyo
Hyora-ya…” Ucap Yura pelan dengan air mata mengalir. “Aku…harusnya aku tidak
pernah mengajakmu ke tempat itu…harusnya aku tidak meminta agar semua laki-laki
tampan mencintaiku. …harusnya…harusnya ini tidak pernah terjadi…” Yura terisak.
Aku menepuk pundaknya dan memeluknya sembari berusaha tersenyum meskipun sangat
sulit.
“Sudahlah…ini
bukan sepenuhnya salahmu juga. Kita semua ikut andil dalam masalah ini. Ahjumma
itu juga tak sepenuhnya bersalah. Sudahlah…” Ucapku menenangkan.
“Tapi…tapi
bagaimana? Kalau Taemin jatuh cinta padaku bagaimana denganmu?” Tanya Yura
dengan air mata mengalir deras.
“Na
gwaenchana…semuanya pasti akan berlalu. Aku yakin itu. Mari kita pecahkan
masalah ini bersama-sama…eung?” Tanyaku sembari melepas pelukanku dengan Yura.
“Sekarang hapus air matamu..tak ada gunanya kau menangis..”
“Eo…”
Ujar Yura seraya menghapus air matanya meski percuma karena air mata yang baru
kembali mengalir. “Aku janji…aku janji aku takkan menerima Taemin Oppa. Aku
akan menjaga perasaanmu Hyora-ya. Aku juga akan menggunakan cara apapun untuk
menghilangkan sihir terkutuk ini..setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan
untuk menebus dosa-dosaku…”
***
*Han
Hyora PoV*
Sudah
1 hari sejak aku meminum ramuan itu. Masih teringat jelas pertengkaran Yura
dengan penyihir tua terkutuk itu. Saat Yura meminta uangnya kembali. Saat
penyihir tua terkutuk itu mengatainya pelacur yang membuat usahanya dalam
kesulitan karena tidak bisa lagi memberikan ramuan cinta untuk orang-orang yang
menginginkan laki-laki tampan. Saat mereka mulai saling menjambak rambut dan
mengeluarkan sumpah serapah. Saat aku mencoba memisahkan mereka berdua. Dan
saat Yura kembali dengan rambut acak-acakan dan kulit tercakar. Semuanya. Saat
Yura meminta maaf sembari bergenang air mata. Saat aku mencoba tersenyum meski
terasa seperti tertimpa matahari. Saat aku mulai hidup dengan kutukan.
Semuanya.
Han
Hyora dasar kau wanita terkutuk! Sumpahku sembari mengunyah mawar. Rasanya sama
sekali tidak bisa diterima lidah. Tapi bukan itu masalah besarnya. Mawar ini
hanya akan membuat sihirnya semakin kuat. Para laki-laki itu akan terjatuh
semakin dalam ke dalam perangkap yang dibentangkan Yura. Dan aku disini mengorbankan
seluruh kebahagiaan para laki-laki tersebut hanya untuk menyambung hidupku.
Betapa terkutuknya kau Han Hyora!
Aku
mulai meneteskan air mata. Kalau saja…kalau saja sampai akhir aku menolak untuk
pergi ke tempat sialan itu. Kalau saja aku tidak mendengarkan pikiran terkutuk
itu yang hanya mementingkan kebahagiaanku semata. Kalau saja semua ini tidak
pernah terjadi. Bahkan meskipun belum ada satupun laki-laki yang jatuh cinta
padaku aku sudah menangis memikirkan apa yang akan terjadi, memikirkan betapa
terkutuknya diriku. Dan kutukan ini tak akan pernah berakhir. Aku menatap ke
bawah dengan perasaan putus asa. Menatap jalanan dan orang-orang yang terlihat
kecil dari atas sini. Sepintas terpikir pikiran untuk loncat dari atas sini.
Tapi aku tahu aku tidak akan melakukannya. Semua orang hidup karena anugerah
Tuhan dan aku yakin pastilah sebuah dosa besar untuk membuang anugerah yang
diinginkan 3.500.000 calon bayi lainnya. Kecuali aku ingin terlahir kembali
sebagai kecoak di kehidupan selanjutnya atau masuk neraka aku tidak akan
melakukan bunuh diri.
“Hyora-ya?
Apa yang kau lakukan disini?” Sahut seorang wanita membuatku menolehkan
kepalaku. Aku bahkan lupa untuk menghapus air mataku terlebih dahulu. Dia
membelalakkan matanya melihat air mataku dan kenyataan bahwa aku sedang duduk
di tepi atap sekolahku. “Kau…kau tidak sedang berpikir untuk bunuh diri kan?”
“Tentu
saja tidak! Kau tahu aku bukan orang seperti itu!” Bantahku segera. Jung Jinni
– orang yang menyapaku – menghembuskan nafas lega.
“Kalau
begitu apa yang kau lakukan disini? Dan kalau aku boleh tahu kenapa kau
menangis?” Tanyanya sembari menatap setangkai mawar yang kugenggam penuh dengan
rasa penasaran. “Kau…jangan bilang cintamu ditolak oleh Lee Taemin?”
Aku
terkesiap. Kabar bahwa aku mencintai Lee Taemin bahkan sudah sampai ke telinga
Jinni!? Sebenarnya sudah berapa banyak orang yang mengetahui hal ini!?
“Majayo?
Yaa~ Lee Taemin! Aku tak menyangka ternyata dia pria sekejam itu!”
“Aniya! Bukan seperti itu! Bagaimana mungkin Taemin menolakku di saat
aku bahkan tidak menyatakan perasaanku padanya?” Elakku seraya memetik satu
kelopak mawar dan mulai mengunyahnya. Wajahku memucat. Han Hyora…apa yang kau lakukan di depan Jinni!?
“Kau…suka
makan mawar?” Tanya Jinni dengan air muka terkejut.
“Eo…eo!
Mollayo?” Ucapku terbata seraya tertawa kikuk. Babo! Harusnya kau tidak menunjukkan rasa gugupmu di depan Jinni. Kau
bisa dicurigai!
“Aku
tidak tahu kau punya kebiasaan aneh seperti itu…”
Aku tersenyum kikuk. Jangan sampai curiga Jung
Jinni! Jebal!
“Omong-omong…untuk
apa kau datang kesini?” Tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan sembari
kembali mengunyah mawar. Berusaha terlihat normal.
“Aku?
Aku hanya ingin menenangkan diri setelah bertengkar dengan laki-laki brengsek
itu. Kupikir setidaknya dia tidak akan datang ke sini.” Ujarnya dengan air muka
keruh. Kim Jaemin. Pasti pria itu. Mereka sudah berpacaran selama 4 tahun dan
selama 2 tahun belakangan ini mereka selalu saja memiliki alasan untuk
bertengkar. Apapun itu. Aku bahkan heran mengapa dia masih mempertahankan
hubungannya dengan laki-laki itu jika yang mereka lakukan hanya bertengkar.
“Ooh…begitu
rupanya.” Ucapku sembari mengangguk-anggukan kepalaku pelan. “Oh ya…aku boleh
meminta tolong padamu?”
“Tentu
saja. Mwo?”
“Tolong
rahasiakan kebiasaanku ini ya? Aku takut anak-anak akan mengataiku begitu
mereka mengetahui kebiasaanku.”
“Eii…kau
tahu anak-anak disini. Mereka takkan melakukan hal itu untuk mengolok-olok
dirimu!”
“Tetap
saja. Jebal~ Ne?” Pintaku dengan sangat. Jung Jinni kemudian terdiam sebentar.
“Eo!
Kau bisa mempercayakannya padaku! Kau tahu aku sangat ahli dalam menjaga
rahasia!”
“Gomawo…”
“Ini
bukan apa-apa.” Jawabnya sembari tersenyum lebar. Tepat setelah Jinni
mengatakan hal itu bel sekolah berbunyi. Jinni langsung berdiri dari duduknya.
“Ayo cepat masuk! Bel sudah berbunyi!”
“Ne~!”
Ucapku lalu mengikuti langkah Jinni.
***
*Han
Hyora PoV*
Jantungku
berdegup kencang. Tidak. Kali ini bukan karena Lee Taemin. Tapi kenyataan bahwa
aku akan membuat para laki-laki tampan disini jatuh cinta padaku. Siapa lagi
kalau bukan member SHINee? Kecuali Taemin tentu saja. Membuatku ingin menangis
lagi mengetahui kenyataan tersebut.
“Han
Hyora! Ada apa denganmu? Dari tadi kau terlihat tidak fokus dengan tariannya!
Semuanya jadi berantakan karena kamu!” Bentak Jeong Joo Min, pelatih tari SM
Entertainment.
“Joesonghamnida…”
“Semuanya
ulang lagi dari awal!”
“Aah
jinjja!” Keluh para penari termasuk member SHINee…dapat kulihat beberapa penari
wanita yang mendelik tajam ke arahku. Membuatku meringis pelan.
30
menit kemudian…
Aku
meminum air putih yang kubawa sejak tadi. Haus. Tentu saja. Dan aku sedang
memejamkan mata berusaha menyegarkan pikiranku saat aku merasakan ada seseorang
yang duduk di sampingku.
“Gwaencanha?”
Aku tersentak dan menoleh. Choi Minho. Tidak. Jangan bilang…tidak..tidak mungkin. Ya, tidak mungkin dia
jatuh cinta secepat itu. Bukankah sudah diberi tahu? Waktunya 3 hari! Jangan
berpikir berlebihan Han Hyora! Dia hanya menanyakan keadaanmu!
“Eo…gwaencanha.”
Ucapku sembari tersenyum tipis, berusaha tidak menunjukkan rasa gugupku.
“Eii…jangan
berbohong! Jelas sekali kau terlihat seperti sedang ada masalah! Ceritakan
padaku! Bukankah kita ini teman?”
“Yah…hanya
ada sedikit masalah di rumah…” Jawabku berbohong. Kau benar-benar wanita terkutuk Han Hyora!
“Jinjja?
Kalau begitu ya sudah…” Ujar Minho sembari meminum minumannya. Aku menelan
ludah berat.
***
*Han
Hyora PoV*
Ini
sudah keempat harinya sejak aku meminum ramuan itu. Dan sejak kemarin aku tidak
juga melangkahkan kaki keluar dari rumah ini. Aku beralasan sakit pada sekolah
dan SM Entertainment. Sudah banyak sms dan teman yang datang ke rumah untuk
sekedar menanyakan aku sakit apa dan mendoakanku untuk cepat sembuh dan
sebagainya. Dan seperti yang kulakukan sejak kemarin, aku hanya berbohong. Benar-benar
Han Hyora yang terkutuk.
“Hyora-ya~
cepat turun! Makan malam sudah siap!” Seru Hyomin eonni. Aku lalu keluar
menuruni tangga.
“Bagaimana?
Apa sudah baikan?” Tanya eonni begitu aku sampai di meja makan. Aku hanya
mengangguk sembari tersenyum kecil. “Baguslah. Kau tak tahu betapa khawatirnya
Eomma begitu mengetahui kau jatuh sakit. Bukankah sudah kubilang? Jaga
kesehatanmu!”
“Ne
eonni mian…”
Aku sudah mulai memakan makananku saat handphoneku berbunyi. Aku
melihat siapa yang menelepon. Dari SM Entertainment? Ada apa?
“Yeoboseyo…”
“Hyora-ssi…bagaimana
keadaanmu sekarang?” Tanya orang di seberang telepon dengan nada gusar.
“Yah…aku
sudah agak baikan…”
“Baguslah!
Kau bisa datang ke studio Music Bank kan? Kami kekurangan penari…”
“Mwo?
Kurasa aku tidak…”
“Kumohon!
Bukankah dari awal sudah ditetapkan kalau kau adalah penarinya? Sejak kau jatuh
sakit kami kesulitan mencari penari lain dan kalaupun ada mereka tidak akan
memiliki waktu yang cukup untuk berlatih! Ini come back SHINee dan kami ingin
semuanya berjalan dengan sempurna! Kumohon Hyora-ssi, saya berjanji saya akan
bertanggung jawab apabila ada hal yang buruk tertimpa padamu!”
Aku
terdiam. Aku tidak bisa egois. SHINee dan SM Entertainment benar-benar
membutuhkanku sekarang. Meski aku tau pasti apa yang akan terjadi apabila aku
berangkat kesana. Aku menari berpasangan dengan Key dan aku benar-benar takut
dengan apa yang akan terjadi setelah itu. Ini tarian sepasang kekasih. Dalam
hati aku mengutuk orang yang sudah membuat lagu dan tarian tersebut.
“Ne…aku
akan datang…”
“Gomapda
Hyora-ssi! Kami benar-benar berterimakasih!” Ucap orang itu dengan nada lega
luar biasa sebelum akhirnya memutus sambungan telepon.
“Nugu?”
Tanya eonni sembari mengunyah makanannya. Aku berdiri dari tempat dudukku.
“Mian
eonni…kurasa aku tidak bisa ikut makan malam. Kau sisakan untukku saja ya? Ada
hal penting yang harus kulakukan.” Aku segera naik ke atas tangga.
“Hyora-ya!
Neo jinjja…!”
***
*Han
Hyora PoV*
Aku
berlari. Terengah-engah, aku melihat jam. 15
menit lagi! Sial, kenapa di tengah jalan harus ada macet sih!? Lari Han Hyora!
Lebih cepat!
5
menit kemudian…
“Haah…hahh…hahhh…”
Aku meletakkan tangan di lutut. Kelelahan. Dan aku baru saja ingin membuka
pintu backstage SHINee saat kulihat seorang wanita yang memakai topi, kacamata,
dan masker di samping tempatku berdiri. Jelas sangat mencurigakan.
“Agassi…nuguseyo?”
“Hyora-ssi!”
Seru Choi Jin (manager SHINee) seraya menarik tanganku ke dalam. Aku tertarik
ke dalam ruangan.
“Kau…masih sakit?” Tanya Onew begitu aku sudah sampai di dalam
ruangan. Aku memegang masker yang sedari tadi kupakai. Ani! Ini adalah alat supaya tidak ada yang jatuh cinta padaku!
Setidaknya sejauh ini berhasil!
“Eo…sedikit…”
Ucapku berbohong.
“10
menit lagi! Aissh…dimana sih Kim Yura!?” Seru Choi Jin sembari meletakkan
handphonenya di telinga. Kim Yura memang sejak 4 hari yang lalu tidak masuk
sekolah dan SM Entertainment karena alasan sakit. Tidak bisa dihubungi sama
sekali. Membuat Taemin harus latihan menari sendirian. Ya, Taemin. Aku cukup
tahu alasannya. Dan itu bukanlah sakit.
Tunggu…! Kalau dilihat-lihat,
potongan rambut wanita yang kulihat di samping pintu masuk SHINee tadi…itu
potongan rambut Yura! Aku langsung bergegas keluar, dan begitu kulihat wanita itu masih
ada disana aku merasa lega.
“Yura-ya!”
Wanita itu menoleh kepadaku. Jelas dia Kim Yura. “Apa yang kau lakukan disitu?
Cepat masuk!” Perintahku seraya menarik tangannya masuk ke dalam ruangan.
“Hyora-ssi…nugu…?”
tanya Choi Jin begitu gadis itu masuk ke dalam ruangan. Aku segera mengambil
beberapa helai rambutnya untuk ditunjukkan kepada Jin. “Yura-ssi! Aah…jinjja
dahaengida! Apa yang kau lakukan? Dan ada apa dengan topi, kacamata, dan masker
itu?”
“Eo…ini…”
Dia terdiam. Berpikir keras dengan jawaban yang harus dilontarkannya.
“Sudahlah.
Setidaknya kau sudah datang. Tinggal beberapa menit lagi! Palli…palli! Semuanya
bersiap! Hyora-ssi lepas maskermu! Yura-ssi, lepas semua yang kau pakai di
kepalamu! Kalian harus bersiap dan ganti baju! Kalian bahkan belum memakai
make-up…! Aah…bagaimana ini!?”
Aku
terdiam cukup lama. Yah, aku tahu tidak mungkin memakai masker ini selamanya.
Tapi sangat sulit untuk melepasnya.
“Mwohae?”
Tanya Jin sembari melepas maskerku. Aku jelas kaget begitu dia melakukannya.
“Yura-ssi kau juga! Cepat lepaskan dan ayo ganti baju!”
Yura
terdiam sebentar sembari melihat sekeliling. Begitu Jin mendekatinya, dia
langsung lari keluar ruangan. “YURA-SSI!!”
Setelah
itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Dalam hati aku salut juga dengan Yura. Dia
benar-benar tidak ingin Taemin mencintainya. Masih terselip ingatan saat Yura
berjanji dia takkan menerima cinta Taemin dan akan melakukan apapun untuk
membuat sihir ini hilang. Apapun, selain membunuh tentu saja.
Beberapa
lama kemudian Yura kembali dengan diseret beberapa pengawal yang ada di backstage.
Jin terengah-engah, terlihat dia benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya
untuk menangkap Yura.
“Neo
jinjja! Ada apa denganmu, hah!?” Ucap Jin seraya melepas topi, kacamata, dan
masker Yura. Yura pun terengah-engah. Begitu semua telah dilepas Jin, Yura
menatapku dengan genangan air di matanya.
“Mianhaeyo
Hyora-ya…”
“Neo…kenapa
kau menangis?” Jin bertanya dengan rasa bersalah di nada suaranya.
“Yura-ya…na
jinjja gwaenchandanikka! Sudahlah. Ayo cepat bersiap, kita harus tampil!”
Ujarku sembari tersenyum kepada Yura. Dia pun menghapus air matanya.
***
*Author
PoV*
“Hyung…kenapa
aku merasa senyuman Hyora sangat cantik ya?” Tanya Minho kepada Jonghyun, dia
mengangkat bahunya.
“Molla…aku
juga merasa begitu. Isanghane, padahal kita sering melihatnya sejak kita mulai
berlatih menarikan lagu ini…”
“Sayang
sekali dia menyukai Taemin-nie…”
“Eo…”
Ucap Jonghyun seraya memperhatikan Hyora.
“Dan
berpasangan dengan Kibum hyung…”
“Eo…”
“Dia
milikku.” Tukas Minho kemudian. Jonghyun langsung menatapnya terkejut.
“Ya!
Apa maksudmu? Sejak kapan dia menjadi milikmu?” Seru Jonghyun tak terima.
“Apa
yang kalian bicarakan menyebut-nyebut namaku?” Tanya Key tiba-tiba.
“Aniya…bukan
apa-apa!” Elak Minho segera.
“Ya,
tidakkah kau merasa senyuman Hyora sangat cantik?”
Minho
dan Jonghyun menundukkan kepala mereka.
***
*Key
PoV*
Jantungku
berdebar.
Hyora…
Dia benar-benar cantik…
Aku
menggenggam tangannya, mengangkat tanganku ke atas dan Hyora memutar tubuhnya
lalu dia menjatuhkan diri ke belakang dan aku menangkapnya.
Lekukan tubuhnya…
Sangat sempurna…
Kenapa aku tidak menyadarinya dari dulu…?
Padahal dia partnerku…
Aku
tak menyadari diriku tercengang beberapa saat sebelum Hyora menggerakkan
bibirnya tanpa suara.
‘Giliranmu!’
Sial!
Aku
segera menyanyikan bagianku.
Tarian
kemudian berlanjut. Tanganku menyentuh pinggang Hyora dan mengelus pipinya.
Tidak…
Aku ingin lebih dari ini…
Kau
takkan tahu seberapa kerasnya aku berusaha untuk tetap dalam tingkat
kesadaranku. Karena saat ini aku benar-benar ingin memeluk wanita di hadapanku
erat-erat dan mencium bibirnya.
Saat
bibirku sedang di telinga Hyora. Tak ada lagi yang lebih kuinginkan selain
berbisik bahwa aku menginginkannya. Tapi tidak, aku tahu dia menyukai Taemin.
Sial.
***
*Author
PoV*
“Kibum-ah.
Ada apa denganmu? Jelas-jelas kau hampir melewatkan bagianmu tadi!” Seru Onew
pada Key yang matanya tak juga lepas dari Hyora.
“Hyung…sepertinya
aku sudah jatuh cinta….”
“Mwo?
Dengan siapa?” Tanya Onew. Key hanya tersenyum sembari memperhatikan Hyora.
Onew kemudian mengikuti bola mata pria itu. “Han Hyora?”
Senyum
Key makin lebar.
“Ya!
Han Hyora-neun andwae!” Ucap Onew segera. Key langsung menoleh padanya.
“Wae
andwae? Bukankah dia belum punya pacar?”
“Tetap
saja! Kau jelas-jelas mengetahui kalau dia menyukai Taemin! Lihat! Lihat
matanya! Dia jelas-jelas sedang memperhatikan Taemin! Dan…dan kalau kau
memperhatikan wajahnya dia sedang cemburu karena Taemin sedang tersenyum
melihat…Yura…?” Onew menurunkan jari telunjuk yang tadi dipakainya untuk
menunjuk Hyora. “Kenapa Taemin tersenyum-senyum sendiri melihat Yura?”
“Bukankah
sudah jelas? Karena Taemin menyukai Yura.” Key tersenyum senang. “Maka tidak
ada lagi yang bisa menghalangi jalanku mendapatkan Hyora. Hyung, coba bayangkan
saat Hyora menatap Taemin seperti itu aku mendatanginya lalu menutup matanya
dan mengatakan ‘Jangan melihatnya. Itu hanya akan menyakitimu.’ Hyora pasti
akan langsung jatuh cinta sepenuhnya padaku bukankah begitu? Tidakkah itu
benar-benar romantis?” Tanya Key sembari tertawa membayangkan hal tersebut.
“Kalau
begitu kenapa kau tidak melakukannya sekarang i babo-ya?” Balas Onew. “Lihatlah
Hyora!”
Key
mengikuti perintah Onew. Disana Minho sedang menutup mata Hyora dan mengatakan
hal yang persis sama dengan yang dibayangkan Key.
“Ya!
Itu…itu bagianku!” Seru Key tak terima sembari menunjuk Minho. “Tapi…kenapa
anak itu melakukannya? Tidak mungkin dia juga menyukai Hyora kan?”
“Ya!
Sekali lihat aku langsung tahu kalau Minho menyukai Hyora! Untuk apa kau
gunakan otak dan matamu itu?”
Key
menunduk lalu mengacak-acak rambutnya kesal. “Aah…jinjja! Di antara seluruh
wanita kenapa harus Hyora!? Jangan bilang hyung juga menyukainya?”
“Mwo?
Ya! Apa aku terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta?”
“Lalu
kenapa hyung tak terima begitu aku mengatakan kalau aku jatuh cinta pada
Hyora?”
“Jinjja?
Apa aku juga jatuh cinta padanya?”
“Aaa
HYUNG!!”
***
*Hyora
PoV*
Aku
berjalan menelusuri gerbang sekolahku. Dengan perasaan tegang tentu saja.
Kejadian kemarin saat anak-anak SHINee – kecuali Taemin – secara tidak langsung
menyatakan kalau mereka menyukaiku masih terpampang jelas di otakku. Yah, aku
memang memiliki kemampuan pendengaran di atas rata-rata. Dan aku mampu
mendengar dengan jelas apa saja yang mereka katakan di backstage kemarin. Saat
mereka memuji senyumanku, saat Key hampir melewati bagiannya, saat Minho
menutup mataku, semuanya.
Yang
satu itu tampan.
Buru-buru
aku menundukkan kepalaku dalam-dalam. Dia tidak boleh melihat wajahku.
Tunggu.
Yang kulewati tadi…itu
perpustakaan bukan?
Aku
mendongakkan kepalaku dan menatap ke belakang di samping kananku. Benar.
Perpustakaan. Aku segera melangkahkan kakiku ke dalam.
8
menit kemudian…
Ini
dia. Buku yang kucari-cari. Aku tersenyum lebar, saat aku berjalan keluar dari
perpustakaan bel sekolah berbunyi.
Sial! Sekarang pelajaran Miss Jungah
dan dia benar-benar guru killer. Terlambat masuk kelas dan aku akan berdiri
selama pelajaran berlangsung!
Segera
aku mengambil langkah seribu. Aku yakin aku tidak melihat jalan dengan benar
karena aku tertabrak dengan seorang pria. Cukup keras sehingga bukuku terjatuh
dan akupun terjatuh ke lantai.
“Aww…”
“Oh
mian! Aku sedang berbicara dengan pacarku sehingga aku tidak melihat jalan!
Manhi apa?” Tanyanya. Aku mendongakkan wajahku. Sial! Dia sangat tampan!
“Ani…gwaenchanayo!
Salahku juga. Aku tidak lihat jalan tadi.” Seruku cepat lalu mengambil buku
perpustakaan yang terjatuh dan cepat-cepat berdiri. Sebelum aku sempat
melangkah, laki-laki itu menggenggam tanganku. Aku memejamkan mataku erat-erat.
Terkutuk kau Han Hyora! Dia sudah punya pacar! Aku membuka mataku lagi dan
menoleh seraya menundukkan kepalaku dalam-dalam. “Ne, waeyo?”
“Pulpenmu…terjatuh.”
Ucap laki-laki itu seraya memberiku pulpen milikku. Syukurlah! Kukira apa! Ya,
tidak mungkin dia jatuh cinta hanya dengan melihat wajahku sekali saja kan?
“Eo…kamsahamnida..”
Aku membungkukkan tubuhku 90° lalu mengambil langkah seribu menuju kelasku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar