Title
: Love Disaster (Part 4)
Scriptwriter
: HanaYuki13
Main
Cast : Kai EXO, Key SHINee, and OC.
Genre
: Fantasy, Romance, Tragedy, School Life.
Length
: Series
Rating
: PG-15
Summary
:
Harusnya aku tidak pernah meminumnya….
Harusnya aku tidak pernah…
Pandangan mataku kabur. Samar samar, aku melihat bayangan hitam.
Dewa
kematian kah? Sudah kuduga…dia akan datang…
*Han Hyora PoV*
“Baiklah. Aku akan menunggunya...”
Setelah beberapa lama, akupun ingin melepas pelukan itu.
Namun Kai malah memelukku lebih erat.
“Jebal...tetaplah seperti ini untuk beberapa saat lagi. Ne?”
Aku mengangguk. Dapat kurasakan jantungku berdebar. Kurasa...aku takkan menunggu lama.
“Saranghae...Hyora-ya...”
“Ara...” Jawabku sembari tersenyum. Air mata sudah mendesak
ingin keluar dari mataku.
“Hyora-ya.” Seru Minho menghampiriku. “Apa yang kalian
lakukan?”
“Eo?” Kataku terkejut yang lalu melepaskan pelukanku dengan
Kai.
“Ini...tidak seperti apa yang kupikirkan, kan?” Tanya Minho
dengan nada bergetar.
“Ini memang seperti apa yang Hyung pikirkan.” Ujar Kai pada Minho.
Minho menatap Kai tajam. Ini
gawat. Aku langsung mengambil tangan Minho dan tersenyum padanya. “Ada apa
memanggilku Oppa? Apa sebentar lagi waktunya untuk tampil? Kalau begitu
sebaiknya kita cepat ke ruangan backstage.”
Minho melepas genggamanku di tangannya. Dia tidak bergeming
di tempatnya lalu menatapku dengan tatapan seperti seseorang yang dikhianati.
“Apa maksudnya ini? Bukankah...bukankah hatimu milik Taemin?”
“Sudahlah Oppa, sebaiknya kita cepat kembali...kita bisa
mendapat masalah kalau kita tidak segera kembali..” Ucapku lalu kembali
berusaha menarik tangan Minho menjauh dari Kai.
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku??” Bentak Minho.
“Kalau kau seperti ini...aku tidak punya pilihan lain selain mempercayai
pikiran sialan ini..!!”
“Oppa...” Ujarku. Terkejut dengan sikap Minho. Sihir ini...sudah melewati batasnya...
“Katakan padaku kalau ini bukan seperti apa yang kupikirkan!
Kalau kau yang mengatakannya, aku akan percaya.” Pinta Minho sembari menatapku
dengan tatapan memohon.
“Mianhaeyo Oppa...” Ucapku sembari menunduk. Aku tak tahu semuanya akan sekacau ini...
“Kenapa bukan aku??” Tanya Minho sembari berusaha
mati-matian menekan amarahnya. Dia lalu menghampiri Kai dan menggenggam
kerahnya erat.
“Oppa!” Seruku lalu berusaha melepas genggamannya. Tapi
tangan Minho terlalu kuat.
“Apa yang kurang dariku sehingga Hyora memilihmu!??” Bentak
Minho pada Kai.
“Hyung tidak mencintai Hyora...”
“Apa maksudmu?? Kau tak tahu betapa tersiksanya aku karena
perasaan ini!! Kau tak tahu betapa besarnya aku mencintai Hyora!”
Kai balas menggenggam kerah Minho. “Hyung tahu APA??”
“Kalian berdua hentikan..! Ini di backstage, semua orang
bisa melihat kalian! Kumohon hentikan! Dan Oppa, ini adalah pilihanku. Tak
bisakah kau menghormatinya? Siapa kau sehingga harus menyetujui terlebih dulu
apa yang kulakukan?? Ini hakku memilih siapa yang akan menjadi kekasihku!”
“Kekasih?” Tanya Minho. Aku menutup mulutku. Babo! “Ternyata kalian sudah sejauh itu
rupanya...chukkahanda.”
Minho lalu berjalan menjauh dariku dan Kai. Aku bisa
mengetahui betapa marahnya dia saat ini. Sihir terkutuk itu.
***
*Author PoV*
“Hyung, kudengar kau berpacaran dengan Hyora?” Tanya Sehun
pada Kai yang sedang dimake-up di backstagenya. Gosip benar-benar menyebar
dengan sangat cepat.
“Eo...” Jawab Kai. Kau tak tahu betapa senangnya dia saat
ini.
“Daebak, bukankah Hyora mencintai Tae...”
“Ara...tapi dia tetap menerimaku. Kurasa dia ingin segera
melupakan perasaannya pada Taemin hyung. Kulihat saat itu dia menangis sebelum
menerimaku, sepertinya Taemin hyung habis mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya.”
Potong Kai.
“Yaa~ kau datang di waktu yang tepat! Andai aku yang sedang
ada di posisimu, dia juga pasti akan menerimaku.” Ujar D.O.
“Entahlah. Aku meragukannya.” Ucap Kai sembari tersenyum.
“Wah~ sepertinya kau sangat membanggakan dirimu setelah Hyora
menerimamu. Tak heran, hampir semua artis menyukainya dan dia malah memilihmu.
Kau benar-benar beruntung!” Kata Baekhyun.
“Aah..kurasa aku akan galau untuk sementara waktu. Hyung,
aku benar-benar iri denganmu!” Seru Sehun.
“Memang sudah seharusnya seperti itu.” Kai tersenyum lebar.
Jinpyo, yang berada di luar backstage, berpura-pura menjadi
staff, mengerutkan alisnya. Mwoya? Hyora
menyukai Taemin? Tapi Taemin malah membuatnya menangis? Bukankah seharusnya
Taemin juga terkena sihir itu? Kalau memang Hyora menyukai Taemin kenapa dia
tidak meminum ramuan yang membuat Taemin mencintainya? Kenapa dia malah membuat
semua pria tampan mencintainya? Apakah Taemin kebal dengan sihir itu? Ada apa
juga dengan permintaan Han Hyora? Aneh sekali...apa Soonwoo sudah mengetahui
hal ini?
***
*Author PoV*
Jinpyo, yang sedang memasuki kantornya, melihat Soonwoo yang
sedang fokus dengan komputernya. Jinpyo lalu menghampiri Soonwoo. “Kasus Han
Hyora. Kau benar-benar sudah menyelidiki semuanya?”
“Bukankah sudah kubilang hyung? Jangan membawa-bawa nama
gadis itu di depanku lagi.” Ucap Soonwoo malas.
“Aku tahu...kau bahkan sudah mencari tahu tentang informasi
tempat di mana Hyora mendapatkan sihir itu dan apa yang dilakukannya sehingga
dia mendapatkan sihir itu. Kau meneliti tempat itu dengan benar-benar
menyeluruh dan susah payah mendapatkan orang-orang yang pernah datang ke tempat
itu...kau mencari tahu tempat itu sampai tidak melewatkan hal terkecilpun.
Tapi...apa kau sudah mencari tahu lebih jauh tentang Lee Taemin dan Han Hyora?”
“Apa sebenarnya yang ingin hyung katakan?” Tanya Soonwoo
tanpa melepas tatapannya di komputer.
“Taemin...dia tidak ikut terkena sihir itu...!”
“Aku sudah mengetahuinya.”
“Tapi kau tidak merasa aneh sama sekali? Han Hyora menyukai
Taemin, tapi justru hanya Taemin yang tidak terkena sihir itu. Meski aku
memikirkannya berulang kali juga aku tidak bisa mengerti dengan pikiran Han
Hyora yang malah memilih untuk membuat semua laki-laki mencintainya!”
“Eo...” Ucap Soonwoo setengah hati. Dia kemudian terdiam sebentar
lalu menatap Soonwoo. “Mworago? Hyora menyukai Taemin? Dari mana hyung
mengetahuinya?”
“Aku menyelinap ke backstage Inkigayo tadi, dan itulah yang
kudapatkan dari menguping di ruangan EXO, mereka sedang membicarakan hal
itu...bahwa Taemin membuat Hyora menangis karena kata-katanya dan Hyora
berpacaran dengan Kai untuk melupakan Taemin. Itu saja.”
“Jadi begitu rupanya...sekarang semuanya jelas! Sudah kuduga
Han Hyora bukan gadis seperti itu! Hyung, gomapda! Tapi, apa yang hyung katakan
tadi? Hyora berpacaran dengan Kai?” Tanya Soonwoo setelah melepas pelukannya
dengan Jinpyo.
“Ah!” Jinpyo langsung memukul bibirnya. “Harusnya aku tidak
mengatakan bagian itu! Gwaenchana?”
“Gwaenchana. Aku hanya sedikit kaget. Itu saja.” Ucap
Soonwoo berbohong.
***
*Han Hyora PoV*
Aku mendengus kesal. Orang
terkutuk itu! Sekarang dia bahkan menerorku dengan memenuhi lokerku dengan
darah dan mengataiku pelacur lewat tulisan di dinding sekolah tapi dia bahkan
tidak berani menunjukkan batang hidungnya sama sekali! Pengecut terkutuk!
Batinku sembari berjalan dan menendang-nendang kerikil di depanku dengan kesal.
“Han Hyora! Hati-hati!!” Teriak seseorang yang lalu berlari
ke arahku dan memelukku hingga terjatuh.
Ada apa ini?
“Gwaenchana?” Tanya Junghwan, orang yang memelukku tadi.
Kulihat kepalanya berdarah.
“Eo...” Jawabku.
Junghwan tersenyum lega. “Syukurlah...”
Setelah itu, dia tidak sadarkan diri. Dan saat itu juga aku
melihat meja yang sepertinya terjatuh dari lantai atas tadi. Alasan kenapa
Junghwan memelukku. Tidak...ini buruk...
“Junghwan-ah! Junghwan-ah gwaenchana?? Sadarkan dirimu
Junghwan-ah!!”
***
*Junghwan PoV*
Putih...aku dimana?
Mataku kemudian mengerjap karena cahaya terang yang memasuki
mataku. Kepalaku terasa sangat pusing.
“Kau sudah sadar?” Tanya seseorang, aku menoleh, Sohee.
“Eo...Sohee-ya..” Aku memegang kepalaku yang terasa sakit.
“Aku ada dimana?”
“Jeongmal molla? Atau...kau mau berpura-pura tidak tahu lagi
seperti yang kau lakukan terakhir kalinya?” Ujar Sohee dengan nada dingin.
“Apa maksudmu?”
Sohee meneteskan air matanya. “Bukankah sudah kubilang? Atau
kata-kataku kurang jelas? Jangan pernah mendekati gadis jalang itu lagi!
Jangan...bahkan hanya untuk melihatnya sedetik saja! Tapi ini apa??”
Aku menggenggam tangan Sohee. “Sohee-ya, dengarkan penjelasanku
dulu...”
“Lepaskan ini!” Bentak Sohee sembari melepas tanganku. “Kau
pikir aku tidak tahu? Kau selalu memperhatikan jalang itu kapanpun dan
dimanapun dia berada! Kau beralasan apapun padaku agar dapat mengikuti jalang
itu!! Kau jelas-jelas memiliki perasaan dengannya!!”
“Sohee-ya, aku melakukan itu karena aku khawatir dengannya.
Bukankah kau sudah tahu? Dia akhir-akhir ini di-bully, dan...”
“Lalu kenapa?? Lalu kenapa kalau dia dibully, HAH!? Aku
tidak peduli apa yang akan terjadi dengan jalang itu! Bahkan kalau dia mati
sekalipun!!”
“Sohee-ya! Jaga kata-katamu!” Bentakku. “Tak kusangka kau
lebih buruk daripada yang kupikirkan!”
“Lalu kenapa!? Kau pikir aku seperti ini karena siapa??”
Teriak Sohee histeris. “Aku kekasihmu! Seharusnya kau memahami perasaanku saat
aku mengatakan hal itu! Seharusnya kau mengutamakanku dibandingkan jalang
itu!!”
“Lalu? Apa aku harus membiarkannya begitu saja saat gadis
itu hampir tertimpa meja??”
“Memang harus seperti itu! Kau memang tidak memiliki hak
untuk melindungi siapapun kecuali diriku! Kau pikir kau siapa??”
Aku tersenyum. “Jadi itu rupanya...kau memang tak pernah
mencintaiku, kan? Kau hanya terobsesi memilikiku. Karena kau tak pernah tidak
memiliki yang kau inginkan, dan kau beruntung aku sedang dalam keadaan yang tak
memungkinkanku untuk menolakmu. Kalau bukan karena ibuku yang sedang koma di
rumah sakit dan kecelakaan mematikan yang membunuh seluruh keluargaku juga uang
yang kau miliki aku takkan menerimamu! Kalau bukan karena itu semua, aku takkan
mungkin mau bersama denganmu sampai saat ini! Atau...jangan-jangan kau...”
Sohee tersenyum licik. “Majayo. Aku yang membuat semua itu
terjadi. Keluargamu berakhir seperti itu memang aku yang menyebabkannya. Tak
kusangka kau benar-benar bodoh. Baru menyadari hal itu sekarang.”
Mataku memerah. “Neo...!!”
“Mwo? Apa yang akan kau lakukan? Dengan keadaanmu yang
seperti itu kau bisa apa?” Ujar Sohee. “Sejujurnya aku kasihan padamu, dengan
polosnya berpacaran dengan orang yang telah membunuh keluargamu. Tapi tenang
saja, kau sudah menyakiti hatiku. Jadi aku sudah memutuskan untuk putus
denganmu. Mari kita akhiri...hubungan ini. Karena aku sudah tidak
membutuhkanmu, kau tahu pasti apa yang akan terjadi dengan ibumu, kan?
Annyeong, jagiya.”
“NEO...!! Kau bahkan bukan manusia!! KAU LEBIH BURUK DARI
IBLIS!!” Kutukku mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Sohee sama sekali tidak
menolehkan kepalanya dan keluar dari ruangan itu. Air mataku mengalir. Aku menggenggam tanganku penuh amarah.
***
*Author PoV*
Sohee, yang sedang duduk di bangku belakang mobil mewahnya,
mengangkat suaranya. “Han Hyora. Cari tahu semua hal tentang gadis itu. Karena
dia, hubunganku dengan Junghwan hancur...”
“Baik, Nyonya..”
***
*Han Hyora PoV*
Aku sedang melangkah pulang dari sekolahku. Kejadian kemarin
saat Junghwan menyelamatkanku dan Sohee yang mengusirku dari bangsal Junghwan
masih terngiang di kepalaku. Apa dia
benar-benar baik-baik saja? Kurasa hubungannya dengan Sohee dalam bahaya karena
diriku. Sihir itu benar-benar!
Tidak ada reporter yang menunggu di gerbang lagi. Kurasa
mereka sedang fokus dengan skandal perselingkuhan seorang aktor Korea papan
atas. SM Entertainment sepertinya berhasil memendamnya, meski aksi bully padaku
masih saja gencar dilakukan oleh pengecut terkutuk itu. Aku sudah menyusuri
jalan yang belum terlalu jauh dari gerbang sekolahku saat seseorang menarik
tanganku. Orang itu memakai topi dan masker sehingga aku tidak begitu jelas
melihat wajahnya.
“Omo! Neon nuguya!?” Seruku kaget. Orang itu kemudian
meletakkan jarinya di bibirku.
“Ssst...kalau kau berbicara terlalu keras orang-orang akan
melihat kita!” Bisiknya di telingaku, aku menoleh.
“Jongin Oppa?” Tanyaku kemudian. Kulihat matanya menyipit
dan dia mengangguk. “Apa yang Oppa lakukan disini? Oppa gila ya? kalau ada
orang lain yang melihat kita bagaimana?”
“Karena itu aku memintamu untuk jangan berisik. Dan kau
pikir untuk apa penyamaran ini? Kaja.” Ucapnya lalu menarik tanganku.
“Eodi?”
“Bersenang-senang. Tentu saja.”
***
*Han Hyora PoV*
“Kau mau yang mana? Rasa coklat atau strawberry?” Tanya Kai
padaku. Saat ini kami sedang ingin membeli ice cream setelah berjalan-jalan
cukup lama di taman yang sedang lumayan sepi ini.
“Coklat.”
“Tolong 2 rasa coklat.” Kata Kai pada penjual es krim itu.
Setelah membelinya kami kembali berjalan-jalan mengelilingi taman ini. “Mian,
karena pekerjaanku aku hanya bisa mengajakmu ke taman ini. Seharusnya aku
mengajakmu ke tempat yang lebih menyenangkan.”
“Gwaenchanayo Oppa. Dari kecil aku sangat menyukai taman.
Ini tempat yang sempurna untuk kencan pertama kita.” Ujarku. Meski aku agak
malu saat mengatakan ‘kencan’.
Mata Kai menyipit. “Aku tidak menyangka kau akan mengatakan
hal itu dengan begitu blak-blakan. Apa yang kau katakan tadi?”
“Diamlah. Aku juga malu mengatakannya.”
“Aigoo~ lucu sekali! Kau sangat lucu saat wajahmu memerah
seperti itu, ara?” Ucap Kai sembari mencubit pipiku.
“Ah Oppa!”
Kai lalu melepas masker yang sedari tadi dipakainya.
“Oppa neo mwohae? Kalau ada orang yang melihat Oppa
bagaimana??” Seruku kaget.
“Justru orang-orang akan memperhatikan kita kalau kau
mengatakan hal itu..” Ujar Kai santai.
“Tetap saja...”
“Tenanglah, hanya
beberapa orang yang ada di taman ini...dan sebagian besarnya adalah manula yang
sepertinya tidak terlalu tertarik dengan kehidupan boyband jadi untuk apa kau
khawatir? Dan lagi, kalau aku tidak membuka maskerku bagaimana aku akan memakan
es krim ini?”
Aku cemberut.
“Ada yang ingin kutanyakan...” Ucap Kai lalu menatap mataku.
“Apa kau...masih dibully?”
“Yah...aku tidak bisa bilang tidak...” Aku menatap Kai.
“Oppa...ada banyak hal yang ingin kuceritakan pada Oppa...”
***
*Author PoV*
Sohee, yang sedang menciumi bunga mawar di halaman rumahnya,
mendapatkan SMS.
“Siapa ini? Mengganggu saja...”
Sohee lalu melihat isi SMS itu.
“Eo?”
-Nyonya, saya mengikuti Hyora seharian. Dan ini yang saya
dapatkan...-
[Foto Kai mencubit pipi Hyora]
[Foto Kai tertawa dengan Hyora]
[Foto Kai mencium pipi Hyora]
Sohee tersenyum, dia lalu mengirim SMS.
-Kerja bagus. Serahkan foto-foto itu pada kantor berita
Entertainment, aku penasaran dengan reaksi mereka-
***
*Han Hyora PoV*
“Yura-ya...” Panggilku. Wanita itu, yang sedang kupanggil,
malah mempercepat jalannya. “Neo jinjja...Yura-ya!”
Aku berhasil menggenggam tangannya.
“Ah...mwo? Apa yang kau inginkan?” Tanya Yura tanpa melihat
wajahku.
“Lihat wajahku..!” Pintaku sembari memegang kedua tangannya.
“Ada apa denganmu? Kau terus menerus menjauhiku! Kau bahkan tidak membalas
sapaanku dan tidak pernah melihat wajahku! Terakhir kali kita berbicara adalah
saat kau membantuku menyingkirkan para wartawan itu! Kenapa kau tidak mau
berbicara denganku? Padahal ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu!”
“Aku tidak ingin berbicara denganmu...” Balas Yura sembari
berusaha melepas genggaman tanganku.
“Kenapa kau seperti ini??”
“Seharusnya itu yang kutanyakan padamu! Kenapa kau seperti
ini? Kau ingin terus menghukumku? Aku tak tahan dengan rasa bersalah yang terus
kurasakan setiap kali aku melihatmu! Terakhir kali aku menolongmu, kupikir aku
bisa memaafkan diriku setelah apa yang kulakukan padamu tapi ternyata tidak!
Aku terus merasa bersalah dan aku benar-benar tersiksa dengan rasa bersalahku!
Kenapa kau terus muncul di hadapanku??” Seru Yura menatapku dengan genangan air
mata di matanya.
“Benar! Aku memang ingin menghukummu! Semuanya sudah kacau
balau begini tapi kau yang juga ikut andil membuat semua ini terjadi malah lari
dari tanggung jawabmu! Kau tak tahu betapa inginnya aku melakukan hal itu! Lari
dari semua yang terjadi! Tapi aku tidak bisa! Karena itu aku menghukummu! Kau
harus...harus merasakan rasa bersalah itu lebih dalam lagi! Karena itu
satu-satunya caramu untuk membalas dosa yang telah kau lakukan pada seluruh
pria itu! Tapi apa yang kau lakukan? Lari dariku? Benar-benar...”
Yura menangis. “Mianhaeyo Hyora-ya...aku sangat pengecut.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk membalas semua dosaku jadi
satu-satunya yang bisa kulakukan adalah lari dari rasa bersalahku dan mencari
cara untuk menemukan ramuan penawarnya. Tapi, aku tak bisa menemukannya.
Padahal aku sudah mengunjungi banyak sekali paranormal ternama, tapi tak ada di
antara mereka yang lebih hebat dari penyihir itu. Aku...tak tahu semuanya akan
jadi kacau seperti ini. Aku benar-benar tak tahu...harusnya aku tidak membuat
permintaan bodoh itu. Aku tidak berpikir panjang...”
“Berhentilah menangis. Kau sudah melakukan semampumu.”
Ujarku sembari menghapus air mata Yura. “Bukankah kau sudah bilang akan
melakukan apapun yang kuperintahkan? Kemana janjimu itu?”
“Mian...aku melupakannya.”
“Sebaiknya kau menepati janjimu. Karena aku ingin kau melakukan
sesuatu untukku.”
“Mwonde?” Tanya Yura.
“Jangan pernah...bahkan sekalipun. Menjauh lagi dariku. Tak
peduli seberapa besar rasa bersalahmu. Karena aku benar-benar tidak akan
memaafkanmu kalau kau melakukan hal itu lagi. Dan...terimalah perasaan Taemin
Oppa.”
“Mwo?” Yura menatapku terkejut.
“Apa itu sesuatu yang
sangat sulit untuk dilakukan?”
“Ani...tapi bukankah kau menyukai Taemin Oppa? Aku sudah
berjanji padamu untuk tidak menerima perasaan Taemin Oppa...aku tak ingin
menyakitimu...” Ujar Yura sembari menundukkan kepalanya.
“Ingkari janjimu. Ini permintaanku. Lagipula, aku...sudah
memiliki Jongin Oppa. Kau tahu? Dia menyukaiku sejak aku menari bersamanya. Aku
akan melupakan Taemin Oppa. Kau juga tidak tahu kan seberapa tersiksanya mereka
yang terkena sihir itu? Siksaan itu...aku tak ingin Taemin Oppa mengalaminya.
Karena itu aku meminta padamu...aku meminta dengan benar-benar
tulus...terimalah perasaan Taemin Oppa.” Pintaku padanya.
“Aku mau bagaimana lagi? Ini permintaanmu...” Kata Yura
kemudian. “Aku akan melakukan yang terbaik untuk menjalankan perintahmu,
Nyonya.”
“Mwoya? Kau bilang aku apa?” Tanyaku sembari tertawa dan
mendorong Yura dengan salah satu tanganku. Dia ikut tertawa.
***
*Author PoV*
Kai dan anggota EXO yang lain melangkah keluar dari
apartemen mereka untuk menghadiri sebuah acara saat para wartawan
mengerubunginya.
“Kai-ssi, apa benar
kau berpacaran dengan Hyora?”
“Bukankah Hyora adalah perempuan yang dicium oleh Key? Ada
apa sehingga kau bisa menjadi kekasihnya?”
“Di foto yang kita dapatkan terlihat kau tidak memakai
penyamaran apa-apa, apa kau memang ingin hubunganmu terekspos oleh publik?”
Pertanyaan demi pertanyaan saling tumpang tindih menyerbu
telinga Kai, hanya beberapa pertanyaan yang jelas sampai di telinga pria
tersebut. Para wartawan ini
benar-benar...
“Permisi...kalian menghalangi jalan. Anak-anak ini sedang
buru-buru!” Seru Heo Jaehyuk, manager EXO K, sembari mengusir para wartawan
tersebut. Tapi mereka malah semakin maju menyerbu Kai. Ada apa ini? Para wartawan itu baru pertama kalinya seliar ini...
‘Tutup mulutmu dari
skandal ini. Jangan menjawab pertanyaan apapun dari wartawan. Kami yang akan
mengurusnya.’
“Aku...” Kai angkat suara. Otomatis ribuan pertanyaan itu
berhenti seketika. “Memang memiliki hubungan sepasang kekasih dengan Han
Hyora.”
“Ya! Kau gila ya??” Bisik Suho di telinga Kai.
Jaehyuk berbalik dan menatap Kai dengan tatapan tak percaya.
“Karena itu...jangan sampai ada seorangpun yang
menyentuhnya. Kalau ada yang ingin melakukannya, langkahi dulu mayatku.”
***
*Han Hyora PoV*
Saat ini di backstage SHINee, semua sedang sibuk dengan
dirinya masing-masing. Keempat member SHINee sedang tidak dalam mood yang baik
sekarang ini, alasannya jelas : skandal terbaru Kai dengan Hyora. Sedangkan aku
dan Yura sedang asyik berbincang-bincang. Jin menghampiri kami berdua.
“Kalian sudah berbaikan?” Tanyanya sembari tersenyum
menatapku dan Yura.
“Seperti yang Oppa lihat.” Ucap Yura sembari tersenyum manis
pada Jin. Taemin memperhatikan Yura sembari tersenyum melihat senyuman wanita
tersebut. Hatiku serasa tergores pisau. Tapi bukan itu bagian paling
menyakitkannya. Aku, yang tidak terkena sihir tersebut, sudah sangat sakit
melihat Taemin memperhatikan Yura seperti itu. Bagaimana dengan mereka yang
terkena sihir tersebut?
“Anak-anak, sepertinya mereka sedang tidak dalam mood yang
baik hari ini.” Ujar Jin sembari menatap para member SHINee.
“Kurasa mereka seperti ini karena seorang gadis. Aku
penasaran sihir apa yang dimilikinya sehingga bisa membuat mereka jadi seperti
ini.” Seru seorang penari yang sedang berdiri di dekatku. Aku tahu pasti untuk
siapa ditujukannya kalimat tersebut.
“Jihyun-ssi, jangan berbicara seperti itu...kau tahu mereka
seperti itu karena perasaan mereka sendiri.” Kata Jin pada wanita itu.
“Tidakkah Oppa merasa aneh? Seorang gadis yang bahkan tidak
terlalu istimewa bisa merebut hati banyak sekali pria tampan. Teman-temanku
yang memiliki tampang di atas rata-rata semuanya jatuh hati dengan gadis
tersebut. Tidakkah menurutmu gadis itu habis melakukan sesuatu? Sihir misalnya?”
Kata-katanya benar.
“Ya! Apa maksudmu berbicara seperti itu? Tidakkah kau merasa
kata-katamu itu terlalu kejam?” Ucap Yura sembari menatap gadis itu tajam. Dia
lalu berdiri dari tempat duduknya dan melipat tangannya kemudian kembali
mengangkat suara. “Atau kau memang iri dengan Hyora?”
“Mwo? Iri? Dengan jalang itu? Hah...kau pasti bercanda!”
Perhatian keempat member SHINee yang sedang sibuk dengan
diri mereka masing-masing beralih kepada Jihyun.
“Mwo? Jalang? YA!” Yura lalu menjambak rambut wanita
tersebut dengan sepenuh tenaganya.
“YA! Singkirkan tanganmu dari rambutku!”
“Yura-ya! Keumanhae! Sebentar lagi kita tampil! Ah..jinjja!
Neo mwohae!?” Ucapku sembari berusaha memisahkan mereka berdua. Tapi tenaga
kedua wanita itu benar-benar kuat.
Taemin lalu menghampiri mereka, ikut berusaha memisahkan
kedua wanita tersebut. Gagal. Jin juga ikut memisahkan mereka. Gagal lagi.
Jonghyun, yang dari tadi sedang sibuk dengan handphonenya, menghampiri kedua
wanita tersebut. Dia berhasil memisahkan kedua gadis itu dalam sekali coba. Dia
lalu menahan Yura dan Jin menahan Jihyun.
“Keumanhaja. Tak ada gunanya mengotori tanganmu untuk wanita
seperti itu.” Ujar Jonghyun pada Yura.
“Mwo? Oppa, mworago?” Tanya Jihyun dengan wajah tak percaya.
“Apa aku salah?” Jonghyun balik bertanya sembari melihat
wanita itu penuh kebencian.
“Harusnya itu yang kukatakan! Apa aku salah? Memang benar
sangat aneh bukan jika ada seorang gadis yang bisa menarik hati hampir semua
pria tampan? Secantik apapun seorang gadis, tetap tidak mungkin untuk bisa
menarik hati semua pria tampan begitu saja! Jatuh cinta pada pandangan pertama?
Tidak mungkin ada pria yang tidak mencintainya? Hah, sihir itu pasti sudah
membuat otak mereka tumpul!”
“Lalu kenapa? Kenapa memangnya kalau dia menggunakan sihir!?
HAH?? Lebih baik kau hentikan omong kosongmu itu! Aku benar-benar muak
mendengarnya!” Bentak Jonghyun pada Jihyun.
“Oppa!”
“Kau tahu apa, hah?” Tanya Yura pada gadis itu. “Kau itu tak
tahu apa-apa tentang Hyora! Gadis itu, bukanlah orang yang akan melakukan
sesuatu yang menjijikkan seperti itu! Jadi, lebih baik kau berhati-hati dengan
kata-katamu...atau kau akan mati dengan tanganku sendiri!”
Menjijikkan? Yura, apa
maksud dari perkataanmu?
“Ah sudahlah sudah hentikan kalian berdua! Sebentar lagi
kalian tampil tapi apa yang kalian lakukan dengan rambut kalian, hah!? Daripada
bertengkar, lebih baik kalian mulai rapihkan rambut kalian!”
***
*Author PoV*
‘Tidakkah Oppa merasa
aneh? Seorang gadis yang bahkan tidak terlalu istimewa bisa merebut hati banyak
sekali pria tampan. Teman-temanku yang memiliki tampang di atas rata-rata
semuanya jatuh hati dengan gadis tersebut. Tidakkah menurutmu gadis itu habis
melakukan sesuatu? Sihir misalnya?’
‘Memang benar sangat
aneh bukan jika ada seorang gadis yang bisa menarik hati hampir semua pria
tampan? Secantik apapun seorang gadis, tetap tidak mungkin untuk bisa menarik
hati semua pria tampan begitu saja! Jatuh cinta pada pandangan pertama? Tidak
mungkin ada pria yang tidak mencintainya? Hah, sihir itu pasti sudah membuat otak
mereka tumpul!’
Sohee tersenyum mendengar rekaman tersebut. Dia lalu menatap
seorang wanita berjas hitam di depannya. “Kerja bagus. Siapa yang berbicara di
rekaman ini?”
“Jihyun, Nyonya. Seorang penari yang juga ikut menari
bersama Hyora.”
“Kasus ini sudah semakin menarik.” Ujar Sohee. “Han Hyora.
Aku sudah memegang kunci matinya.”
***
*Han Hyora PoV*
Aku melangkah memasuki ruangan yang sedang mengadakan
kematian Junghwan. Pria itu, meninggal dengan menggenaskan. Dia menjatuhkan
dirinya sendiri dari atap gedung rumah sakit, meninggalkan sebuah surat yang
kata orang ditujukan padaku. Dia...meninggal karena aku.
“Hyora-ya! Gwaenchana?” Seru Yura sembari menghampiriku yang
hampir terjatuh.
“Eo...gwaenchana...” Jawabku sembari memegang dinding di
sampingku.
“Kau yakin kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat...” Ucap Yura
sembari menopangku berdiri.
“Aku...hanya tidak percaya ini benar-benar terjadi.
Junghwan...dia bunuh diri karena aku...” Aku berjalan dengan langkah gontai.
“Karena ramuan terkutuk itu...karena aku...”
“Berhenti menyalahkan dirimu Hyora-ya. Ini bukan salahmu.
Mereka yang sudah baca surat itu bilang, Sohee yang menjadi alasan dia bunuh
diri. Bukan kamu. Karena itu baca dulu surat Junghwan, kau akan mengerti
masalahnya setelah itu..” Ujar Yura.
“Sohee? Kenapa Sohee?” Tanyaku pada Yura. Wajah wanita itu
seperti ragu untuk mengatakan kata-kata selanjutnya.
“Wanita itu...dia iblis...”
Aku mendekati tempat dimana terdapat foto Junghwan yang
sedang tersenyum dengan bunga di sekelilingnya. Aku berhenti di depannya dan
melakukan ritual penghormatan pada Junghwan lalu membungkukkan diri pada
Kyungmin, teman dekat Junghwan yang menjadi pengurus upacara kematian Junghwan.
Berhubung seluruh keluarga Junghwan telah berpulang kepada Yang Maha Kuasa.
“Kau datang? Gomapda! Jinjja gomapda!” Seru Kyungmin sembari
menggenggam tanganku. Aku tersenyum kikuk. Kyungmin lalu menjentikkan jarinya
pada seorang laki-laki yang sepertinya juga berada di sekolahku. Laki-laki itu
lalu memutar sebuah lagu dari radio di depannya.
Who are you looking
at?~
What are you thinking
of?~
Aku mengangkat suaraku. “Ini...”
I often just watch you
from your side~
“Ini lagu yang ingin sekali diputar Junghwan
untukmu...sebelum dia meninggal dia meneleponku dan memintaku untuk memutar
lagu ini untukmu di hari kematiannya. Aku bergegas ke rumah sakit setelah itu.
Tapi aku terlambat...” Cerita Kyungmin. Air mata sudah menggenangi matanya.
You probably don’t
know~
Your back feels sad~
When you turn around~
I want to spread my
arms~
Aku meneteskan air mataku. Lirik ini...benar-benar
menggambarkan perasaannya padaku.
And hug you~
Don’t go, I want to
hold onto you~
Don’t know why my eyes
only look for you~
Why it hurts while
looking at you~
Why my heart beats
like crazy~
I don’t know~
The words ‘I love you’
that I cannot bear to say~
I’m scared that my
eyes would tell everything~
Don’t know why my eyes
only look for you~
Why it hurts while
looking at you~
Why my heart beats
like crazy~
I don’t wanna let you
go~
I don’t wanna let you
go~
Air mataku mengalir deras. Aku jatuh terduduk dan
memukul-mukul dadaku. “Junghwan-ah...Junghwan-ah eotteokhae?”
“Keumanhae..kau menyakiti dirimu!” Perintah Kyungmin sembari
menggenggam kedua tanganku. Aku meronta, tapi tenagaku tak cukup untuk melepas
genggamannya. Semua yang ada di ruangan ini meneteskan air matanya. Junghwan...bahkan di detik-detik akhir
kehidupannya dia hanya memikirkan diriku... “Tenangkan dirimu! Masih ada
surat dari Junghwan yang harus kau baca! Ini adalah yang ditinggalkannya di
bangsalnya sebelum dia meninggalkan kita semua!”
Aku berhenti. Kyungmin lalu mengeluarkan sepucuk surat dari
balik jasnya dan memberikannya padaku. Aku membukanya.
Untuk Hyora...aku
meminta maaf.
Aku tidak bisa lagi
melindungimu seperti yang kulakukan dulu...kuharap kau baik-baik saja tanpa
diriku. Biar bagaimanpun juga, aku harus melepasmu. Disana...kuharap aku dapat
bertemu lagi dengan seluruh keluargaku. Dengan ibuku yang juga sebentar lagi
akan meninggalkan dunia ini dan semuanya...mereka yang telah dibunuh oleh Min
Sohee.
Aku membelalakkan mataku. “Ini...apa maksudnya?”
“Entahlah. Dia menulisnya sebelum kematiannya. Polisi sudah
datang kesini dan melihat surat itu. Sohee sedang diselidiki sekarang.”
Dia benar-benar
berbahaya. Min Sohee itu. Berhati-hatilah dengannya. Dia iblis dari neraka.
Selama ini aku berpacaran dengannya tanpa mengetahui kenyataan itu. Aku benar-benar
bodoh.
Aku bodoh. Bodoh.
Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh.
Dia terus menulis bodoh sampai akhir kertas itu. Tulisannya
berantakan. Penuh dengan emosi. Aku menatap kertas itu dengan tatapan tidak
percaya.
“Hyora-ssi?” Tegur seseorang. Aku menoleh. Dari pakaiannya
sepertinya dia adalah seorang detektif.
“Ne?”
“Kami punya beberapa pertanyaan untuk anda. Kuharap anda mau
meluangkan waktu anda...”
***
*Author PoV*
Sohee, yang sedang duduk di bangku ruangan interogasi
mengunyah permen karetnya sembari menatap polisi di depannya dengan pandangan
merendahkan.
“Ibwayo Agassi! Agassi ingin berada selamanya disini?? Ini
sudah berapa jam? Cepat jawab pertanyaanku!!” Bentak polisi di depannya seraya
memukul meja di depannya. Sohee tidak bergeming. Dia malah membuat balon dengan
permen karetnya dan meletuskannya di depan polisi itu, lalu mengunyahnya
kembali. Polisi itu berdiri dan hampir-hampir memukul wanita itu dengan
tumpukan kertas yang dipegangnya. Dia lalu mengurungkan niatnya dan duduk lagi
di tempatnya dengan amarah memuncak yang berusaha ditahannya. “Aah..JINJJA!
Inilah kenapa menginterogasi seseorang yang memiliki status sosial benar-benar
menyusahkan! Agassi, setidaknya angkat suaramu! Katakan sepatah atau dua patah
kata!”
Sohee tidak menjawab, dia malah tersenyum sinis pada polisi
itu.
“Hah, tersenyum? Kau malah tersenyum? Kau benar-benar telah
menghabisi kesabaranku! Kalau kau tersenyum seperti itu kau benar-benar
terlihat seperti pembunuhnya, ara?” Polisi itu kemudian mendekat pada Sohee.
“Benar kau yang membunuh keluarga Seo Junghwan?”
Sohee tidak bergeming.
“Setidaknya anggukkan atau gelengkan kepalamu! Kau bisa
membela dirimu dan kalau kau memang tidak bersalah kau bisa memberikan
kesaksianmu! Baru pertama kalinya aku berurusan dengan seseorang yang sangat
keras kepala sepertimu!” Kesal polisi itu, yang bernama Hongbin, dengan wajah
penuh amarah. Dia lalu mengangkat surat yang ditinggalkan Junghwan di hari
kematiannya dan menunjukkannya pada Sohee. “Disini jelas-jelas dikatakan kalau
kau adalah pembunuhnya! Motifnya jelas, kau menghabisi keluarga Junghwan agar
dapat menjalin hubungan sepasang kekasih dengannya! Ini cukup untuk
menjadikanmu tersangka utama dalam kasus ini!”
Pintu tempat interogasi itu berlangsung terbuka, masuk ke
dalamnya seorang polisi yang lalu membisikkan sesuatu pada Hongbin.
“Mworago? Kenapa aku harus membebaskannya?” Tanya Hongbin
tak terima.
“Ketua memberikan intruksi untuk membebaskannya. Katanya
bukti yang kita miliki tak cukup kuat untuk membuatnya menjadi tersangka. Itu
hanyalah kesaksian seseorang yang sudah mati. Jadi ketua menyuruhmu untuk
membebaskannya.”
Hongbin tak mampu mengatakan apapun lagi. Di luar pintu
tersebut, sudah berdiri seorang wanita berjas hitam yang merupakan bodyguard
Sohee. Wanita itu kemudian berdiri dari tempat duduknya,
“Sugohaesseoyo.” Ucap Sohee pada Hongbin, dia lalu berjalan
menuju pintu keluar. Laki-laki itu lalu menatap Sohee penuh amarah.
“Baru sekarang kau buka mulutmu!??”
“Tahan amarahmu! Kau bisa dapat masalah!” Seru polisi di
sampingnya sembari menahan Hongbin.
“AAH!!” Teriak Hongbin penuh amarah. Sedangkan Sohee,
tersenyum licik lalu menghampiri bodyguardnya.
“Kaja.” Ujar Sohee.
***
*Han Hyora PoV*
Aku sudah membereskan tasku dan sedang berusaha keras
membersihkan permen karet yang ada di rok belakangku karena ulah pengecut itu
sembari berjalan keluar kelas saat seseorang menghalangi pintu keluarnya. Min
Sohee. Aku menelan ludah. Pembunuh itu.
“Permisi...kau menghalangi jalanku.” Ucapku dengan nada
bergetar. Isi surat Junghwan masih terekam jelas di otakku. Status sosialnya
pastilah yang meloloskannya dari cengkraman hukum.
“Kau sudah menyakiti hatiku...” Ujar Sohee sembari tersenyum
melihatku. “Selain menghancurkan hubunganku dengan Junghwan, sekarang kau
bahkan melihatku seperti melihat seorang pembunuh? Kau itu benar-benar kejam,
ara?”
“Memang benar, bukan?” Balasku berusaha mengumpulkan seluruh
nyaliku. ‘Berhati-hatilah dengannya. Dia
iblis dari neraka.’
“Wah, kau itu benar-benar bermuka tebal kau tahu? Seharusnya
kau meminta maaf karena telah menghancurkan hubunganku dengan Junghwan dan
membuatnya bunuh diri! Tapi apa yang kau katakan padaku? Pembunuh? Hah, kau
percaya dengan gosip konyol itu?” Kata Sohee sembari berjalan mendekatiku
dengan tangan terlipat.
“Gosip konyol? Sejak kapan isi surat Junghwan menjadi sebuah
gosip konyol bagimu?” Ujarku berusaha tidak menampakkan rasa takutku, menatap
Sohee langsung pada matanya.
“Hah, rupanya gadis sepertimu sudah tidak sadar posisinya
ya?” Desis Sohee tajam. “Jangan coba-coba macam-macam denganku jalang tengik!
Karena aku memiliki kunci matimu!”
“Apa maksudmu?” Tanyaku. Kunci
mati?
“Mollayo? Atau kau hanya berpura-pura tidak tahu? Apa yang
sudah kau lakukan...pada seluruh pria itu. Sehingga mereka semua terjatuh pada
pesonamu. Termasuk Junghwanku yang malang.” Ucap Sohee sembari mengelus pipiku
dengan jari-jarinya.
“Aku tidak mengerti arti dari ucapanmu.” Ujarku dengan nada
bergetar. Dia mengetahuinya...
“Kau dan Junghwan sama saja rupanya. Mana mungkin kau tak
tahu maksud dari ucapanku dengan nada bergetar seperti itu? Seharusnya kau
melatih poker facemu itu. Kau pikir
aku bodoh? Seorang wanita mampu menarik hati semua pria tampan hanya dengan
satu jentikkan jari. Kira-kira sihir apa yang dimilikinya?” Ujar Sohee sembari
tersenyum menatapku. “Kau sudah menggangguku. Kau pikir aku akan diam begitu
saja? Orang yang sudah mengusik Min Sohee, orang itu takkan bisa hidup dengan
bahagia.”
“Apa maumu?” Sial.
Kenapa nadaku harus segemetar ini?
“Akui apa yang sudah kau lakukan...atau aku sendiri yang
akan mengungkapkannya. Aku memberimu waktu 3 hari.” Katanya lalu melangkah
keluar dari kelasku. Wajahku memucat. Semuanya
terbongkar...
***
*Han Hyora PoV*
“Hyora-ya, gwaenchana?” Tanya Hyomin padaku.
“Eo? Eo...” Ujarku sembari berusaha tersenyum.
“Kau jelas-jelas terlihat tidak baik-baik saja. Dari tadi
kau tidak memakan makananmu, kau hanya memainkannya dengan sendokmu dengan
tatapan kosong. Ada masalah apa? Ceritakan padaku.” Ujar Hyomin. Aku
benar-benar mengenal Hyomin eonni. Kalau aku tidak mengatakan masalahku dia
akan marah denganku selama berhari-hari. Salahku yang menunjukkan ekspresi
seperti ini di depannya.
“Eonni...kalau eonni telah melakukan sebuah dosa yang tak
termaafkan apa yang akan eonni lakukan?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau habis melakukan
sesuatu?” Tanya Hyomin sembari mengunyah makanannya.
“Mian eonni. Aku tak bisa memberitahumu.” Ujar Hyora sembari
menunduk.
“Kau tidak melakukan sesuatu...seperti ritual memuja setan,
kan?” Tanya Hyomin seraya menatapku tak percaya.
“Tentu saja tidak! Sudahlah, cepat jawab! Atau aku
benar-benar akan seperti ini untuk hari-hari berikutnya!” Ancamku pada Hyomin.
“Arasseo...arasseo! Apa dosa itu menyiksa banyak orang?”
Tanya Hyomin lagi. Aku mengangguk. “Kalau begitu aku akan melakukan apapun
untuk menghukum diriku sendiri. Dan aku akan menjadikan diriku lebih tersiksa
daripada mereka yang tersiksa karena diriku. Aku tidak akan membiarkan
sedetikpun dari hidupku merasakan kebahagiaan. Setidaknya dengan begitu aku
bisa sedikit memaafkan diriku.”
Deg.
Apa yang selama ini
kau lakukan Han Hyora? Kau wanita terkutuk tak tahu malu!
“Karena aku sudah menjawabnya makanlah makananmu!” Perintah
Hyomin.
“Eo...” Ujarku sembari berusaha mati-matian menahan air mata
yang mendesak ingin keluar dari mataku. Selama
ini aku hanya berusaha mencari kambing hitam untuk disalahkan atas dosaku,
benar-benar terkutuk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar