Title
: Love Disaster (Part 6)
Scriptwriter
: HanaYuki13
Main
Cast : Kai EXO, Key SHINee, and OC.
Genre
: Fantasy, Romance, Tragedy, School Life.
Length
: Series
Rating
: PG-15
Summary
:
Harusnya aku tidak pernah meminumnya….
Harusnya aku tidak pernah…
Pandangan mataku kabur. Samar samar, aku melihat bayangan hitam.
Dewa
kematian kah? Sudah kuduga…dia akan datang…
*Author PoV*
“Aah....jinjja!!”
Soonwoo memukul pintu dengan gantungan boneka santet di
depannya penuh amarah. Di saat seperti
ini wanita itu malah menutup bisnisnya sementara! Seharusnya aku tidak membuang
rekaman sialan itu!
‘Bukannya aku tidak
percaya padamu, tapi kita tidak bisa membuat artikel yang tidak didasari dengan
bukti nyata! Jangan hanya berdasarkan pada spekulasi semata! Kalau kau memang
ingin membersihkan nama gadis itu kau harus berikan bukti kalau memang bukan
dia yang menginginkannya! Dan jangan membawa embel-embel nim itu lagi saat kau
memanggilku imma! Kalau kau membawa buktinya dan tidak memanggilku dengan
embel-embel nim itu lagi, aku akan menyetujuimu untuk mempublikasikan artikel
untuk membersihkan nama gadis tercintamu itu!’
Soonwoo berteriak stress. Dimana penyihir terkutuk itu??
***
*Han Hyora PoV*
Aku melangkah memasuki kelasku. Sudah 2 hari sejak aku
diizinkan keluar dari rumah sakit dan sampai saat ini belum ada ancaman berarti
dari sasaeng fans ataupun teman sekolahku yang membahayakan nyawaku. Saat aku
berjalan menuju bangkuku, aku melihat seikat bunga di atas mejaku (di Korea,
seikat bunga di atas meja seorang murid berarti bahwa murid tersebut sudah
meninggal). Jadi ini kenapa saat aku
berjalan tadi banyak murid yang menabrakku tanpa melihat wajahku. Seperti ini
rupanya...
“Soomin-ah, hari ini ada PR?” Tanyaku pada teman sebangkuku.
Soomin memegang leher belakangnya dan mengangkat suara pada
teman di depannya. “Aneh sekali...bulu kudukku berdiri. Aku merasa dingin. Apa
kau juga merasakannya?”
“Jinjja? Aku tidak merasakannya.” Ujar Ahra.
Aku terdiam. Mereka
benar-benar menganggapku sudah mati...
-Istirahat-
Aku berjalan menyusuri koridor sekolahku. Beberapa orang
menabrakku, tapi aku sama sekali tidak mempedulikannya. Jadi ini yang mereka
inginkan. Andai saat itu tidak ada orang itu, keinginan mereka pasti akan
terkabul. Aku sedang berusaha menahan air mataku saat kulihat disana, Yura
sedang berjalan bersama Jinni.
“Yura-ya!”
Dia menoleh. Melihatku. Yura kemudian memegang leher
belakangnya dan berbicara pada Jinni.
“Ya, isanghane...aku tadi merasa ada seseorang yang memanggilku..”
“Jinjja?” Tanya Jinni padanya. “Suara laki-laki atau
perempuan?”
“Perempuan..”
Mwoya? Kenapa Yura
ikut-ikutan membullyku? Bukankah kita teman?
“Hyora-ya!” Aku menoleh. Lee Jinki. “Aku mencari-cari ke
kelasmu tapi kau tidak ada. Bagaimana luka di perutmu?”
“Sudah membaik.” Jawabku sembari tersenyum padanya. Jinki
lalu merangkul pundakku.
“Mau merayakan kesembuhanmu? Akan kutraktir kau makanan yang
enak di kantin.”
“Tidak usah. Na gwaenchana.”
“Eii...jangan kaku begitu. Kaja!”
“Jinki-ya!” Panggil seseorang. Jinki melihat sumber suara
tersebut. Orang itu menghampiri Jinki. “Kau sedang berbicara dengan siapa? Apa
yang dilakukan tanganmu itu? Mengerikan sekali...kau bisa dianggap orang gila
kalau kau seperti itu, ara? Lebih baik kau ikut denganku, kita bersenang-senang.”
Jinki lalu menatap pria itu tajam. “Tidakkah menurutmu kau
itu terlalu keterlaluan?”
“Mwoga?”
Jinki menggenggam erat kerah pria itu. “Apa maksudmu dengan
berbicara dengan siapa? Kau jelas-jelas melihat orang yang kuajak bicara! Dan
apa maksudmu dengan bersenang-senang? Aku muak mendengarnya!”
“Ya...apa yang kukatakan salah?”
“KAU MASIH BERTANYA??” Mata Jinki memerah. “Apa yang kalian
inginkan, hah?! Kalian berharap Hyora meninggal? Kalian itu benar-benar
keterlaluan, ara!?”
“Hah...kau merasa pantas mengatakan sesuatu seperti itu?”
Ujar pria itu sembari tersenyum miring. “SIAPA DISINI YANG KETERLALUAN??
Karenamu Eunjeong meninggal tapi kau bisa-bisanya masih mendekati hantu
terkutuk itu! Dia menggugurkan anakmu dan dia bunuh diri KARENAMU!! SIAPA
DISINI YANG KETERLALUAN??”
“KALAU BEGITU KALIAN BISA MELAKUKAN HAL ITU PADAKU!! Kenapa
harus Hyora? Kenapa dia yang harus mengalami hal ini?? Bukankah kalian sudah
tahu, dia sudah cukup menderita!” Bentak Jinki pada pria itu.
“Karena dia yang membuatmu jadi orang menyedihkan seperti
ini! Karena sihir terkutuk itu, dia membunuh Eunjeong dan 5 orang lainnya!
Cukup menderita katamu? Penderitaan yang dirasakannya bahkan tak akan pernah
cukup untuk membalas dosa-dosanya!”
5 orang? Apa
maksudnya?
Jinki mengangkat kerah pria itu. “Sudah kubilang bukan?
Jangan pernah mengatakan hal itu di depan Hyora!”
Apa ini? Ternyata ada
banyak orang yang meninggal karenaku?
“Itu hanya di Korea, aku tidak menjamin nyawa mereka yang
ada di negara lain akan aman-aman saja! Kudengar dia seperti orang gila di
rumah sakit? Kenapa tidak sekalian gila saja!”
Jinki memukul pria itu dengan seluruh tenaganya. Para
perempuan yang melihatnya berteriak. Jinki lalu menggenggam kerah pria itu yang
sudah terjatuh dan membuatnya berdiri lagi. “Katakan sekali lagi! KATAKAN
SEKALI LAGI!!”
Pria itu, yang mulutnya berdarah, meludahkan darahnya ke
muka Jinki. “Dia hampir mati karena tidak memakan mawar? Kenapa tidak mati
sekalian! Kalau dia memang ingin mati kenapa dia harus melakukannya di rumah
sakit? Jelas sekali dia hanya ingin mencari perhatian semua orang! Gadis yang
kau cintai itu...benar-benar memuakkan!”
“ANJING LU!!” (Mian...bahasa kasar T_T . Jangan ditiru ya?)
Jinki langsung menendang perut pria itu sekuat tenaga. Pria itu langsung ambruk
dan memegang perutnya kesakitan. Orang-orang langsung menahan Jinki yang
sepertinya ingin menghabisi pria tersebut. “LEPASKAN AKU!! LEPASKAANNN!!!
AAAAAA!!!”
***
*Han Hyora PoV*
6 orang...ani...bahkan
lebih...meninggal karena aku...karena aku..benar apa yang dikatakan orang
itu...aku hanya mencari perhatian saja...harusnya kalau aku memang ingin
meninggal aku bisa melakukannya di tempat lain...tapi dimana?
~Ada telepon! Ada
telepon!~
Aku mengeluarkan handphone yang ada di tasku, dari SM
Entertainment. Aku segera menggeser tombol terima dan menempelkan handphone itu
ke telingaku.
“Ne?”
“Han Hyora-ssi. Selamat atas keluarnya kamu dari rumah
sakit. Sebelumnya saya sangat meminta maaf karena langsung memintamu melakukan
sesuatu di saat kamu baru sembuh, tapi kami benar-benar membutuhkanmu untuk
menjadi penari latar EXO di konser The Lost Planet yang akan diadakan di
Brazil. Kau bisa melakukannya, kan?” Ujar orang di seberang telepon itu.
Benar-benar
membutuhkanku?
“Begini...bukannya aku tidak mau...tapi Ahjussi tahu, kan?
Luka di perutku...”
“Kami sudah mengkondisikannya. Kostum yang akan kau pakai
tidak ada yang akan mengekspos bagian perutmu, jadi kau bisa tampil tanpa
merasa terganggu. Eottae?” Tawarnya.
Dia bahkan sudah
mengkondisikannya? Dia pasti benar-benar membutuhkanku...isanghane...seperti
tidak ada penari lain saja...
“Baiklah kalau begitu, saya akan melakukannya.” Kataku
dengan ragu. Kalau begini...kapan aku
bisa berhenti makan mawar?
“Kamsahamnida Hyora-ssi! Jeongmal kamsahamnida!”
“Ne..”
***
*Author PoV*
-Teman-teman sekolah Miss H memperlakukan Miss H seperti
orang yang sudah meninggal. Dimulai dari seikat bunga yang diletakkan di atas
meja Miss H, teman-teman Miss H juga tak ragu menabraknya dan seolah-olah tidak
menyadari keberadaannya saat sedang berjalan di sekolah. Bahkan tak hanya di
sekolah, sebagian besar warga yang berada di lingkungan Miss H pun ikut
melakukan hal yang sama dengan-
“Aah...jinjja! Sunbaenim! Apa harus aku yang menulis artikel
ini??” Keluh Soonwoo yang sudah benar-benar tak tahan dengan artikel yang
ditulisnya.
“Keurae imma! Dengan begitu kau bisa lebih termotivasi untuk
mencari bukti tidak bersalahnya Hyora! Hampir seharian ini kau hanya keluyuran
ke tempat-tempat yang tidak jelas! Setidaknya lakukan yang satu ini dengan benar!
Dan ada apa dengan nim itu?? Sekali lagi kau memanggilku dengan nim itu dan
akan kupastikan artikel yang membuktikan tidak bersalahnya Han Hyora tidak
pernah terpublikasikan di koran online kita!” Bentak Changwoo.
“Sunbaeni...ani Sunbae! Aku bukannya keluyuran ke tempat
tidak jelas! Aku sedang mencari bukti atas ketidak bersalahnya Han Hyora! Aku
melakukan pekerjaanku! Karena itu jebal, jangan membuatku menulis artikel
ini...aku bisa gila kalau aku harus melakukannya!” Pinta Soonwoo.
“Tapi kau tidak menemukannya! Jadi berhentilah mengeluh dan
tulis artikel itu! Kalau kau terlambat menulisnya kita bisa keduluan kantor
entertainment lain dan kau tahu apa yang akan terjadi setelah itu, kan?”
Soonwoo bergumam kecil. “Kotoran anjing itu...”
“Mworago?”
“Mwo?” Tanya Soonwoo.
“Kau barusan jelas-jelas mengatakan sesuatu!”
“Aku tidak mengatakan apa-apa.”
“Ah molla! Lanjutkan pekerjaanmu itu!”
“Ne...”
***
*Han Hyora PoV*
“Omo...bukankah itu yang namanya Han Hyora?” Ujar seorang
wanita di bandara.
“Maja! Itu Han Hyora! Saesange...dia menjadi penari latar
untuk konser EXO kali ini??” Seru wanita lain di sampingnya. Orang-orang mulai
mengeluarkan handphone untuk memotretku. Aku
tahu ini akan terjadi...
“Ya! Neo mwohae? Apa yang kau potret? Seperti orang gila
saja...” Ucap seseorang sembari menyenggol temannya yang mengeluarkan
handphone, temannya lalu menurunkan handphonenya.
“Benar juga, apa yang kupotret? Seperti orang gila saja.”
Kata temannya sembari menjitak kepalanya pelan. “Kaja. Mian.”
Sebagian orang memperlakukanku seperti hantu, tapi
sebagiannya lagi memperlakukanku seperti apa diriku sekarang ini : sorotan
media. Begitulah, sampai aku menaiki pesawat.
***
*Han Hyora PoV*
“Han Hyora, dia seperti orang gila di rumah sakit, kan? Tapi
kenapa aku melihatnya baik-baik saja sekarang...?”
Terdengar. Omongan orang yang berada di bangku paling
belakang pesawat ini. Aku benar-benar mengutuk pendengaranku yang tajam ini.
“Ya, dia melakukannya karena ingin perhatian saja. Wanita
itu, dia benar-benar memalukan. Dia baru menyesali keputusannya setelah dibully
seperti itu. Tak heran, wataknya benar-benar buruk.”
“SM bahkan menjadikannya penari latar untuk konser EXO kali
ini, sepertinya mereka benar-benar memanfaatkan skandal ini untuk menjadikan
Hyora magnet penarik minat orang-orang untuk datang ke konser EXO, kan? Dia
bahkan punya luka di perut, mereka pasti benar-benar berniat menggunakannya
sebagai boneka promosi.”
“Kau kemanakan otakmu? EXO itu sudah terkenal, mereka tidak
memerlukan boneka promosi seperti itu...paling-paling kekasihnya tercinta yang
memintanya untuk ikut di konser ini karena dia benar-benar merindukannya. Para
pria bodoh itu...Berhentilah berbicara tentang gadis itu...mendengar namanya
saja sudah membuatku mual..”
“Tetap saja...tidakkah kau merasa takut? Kita satu pesawat
dengan pembunuh...”
Pembunuh...
Aku melihat handphone yang sedang dimainkan pria Brazil
tampan di sebelahku, sepertinya dia sedang melihat foto-fotonya dengan
pacarnya. Di foto itu mereka sangat mesra, dan bahagia. Pria itu melihat arah
mataku dan membalikkan handphonenya. Aku langsung mengalihkan pandangan mataku.
“Sorry...”
Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya meletakkan handphonenya
di dadanya dan memasang penutup mata kemudian menyenderkan kepalanya ke kursi
pesawat. Dia pasti sedang sangat tersiksa
dengan perasaannya...harusnya aku tidak mengeluarkan suaraku.
***
*Han Hyora PoV*
Aku melangkah memasuki backstage EXO. Di sana, anak-anak EXO
sudah bersiap dengan kostum mereka. Kai, dia sedang duduk di kursi riasnya. Aku
menghampirinya.
“Hyora-ya...” Ujarnya melihatku.
“Oppa, kenapa kau tidak berdiri?” Kataku dengan mata berair.
“Ne?” Tanyanya bingung.
“Harusnya Oppa berdiri...” Ucapku yang lalu mengeluarkan air
mataku. Anak-anak EXO pasti sedang
melihat air mataku sekarang ini. Andwae...harusnya
aku tidak mengeluarkannya disini...tapi melihat wajahmu membuatku tidak bisa
menahannya lagi...
“Hyora-ya....”
“Kenapa Oppa tidak...hiks... berdiri?
Seharusnya...hiks...saat Oppa me...hiks....lihatku Oppa berdiri...” Ujarku
sembari menghapus air mata yang terus menerus keluar. Di depannya, aku menangis
seperti anak kecil.
Kai berdiri dari tempat duduknya dan berdiri di depanku.
“Hyora-ya...”
Aku segera menggenggam kedua sisi bajunya dan meletakkan
kepalaku di dadanya. Aku menangis sepuasku. Mianhae...ini
terakhir kalinya...terakhir kalinya aku beristirahat dari penderitaanku...
“Aku benar-benar sakit...tapi apa yang Oppa lakukan? Oppa
membuatku harus menahan air
mataku...sekarang semuanya jadi tidak terkendali...”
“Mianhae...Oppaga mianhae...”
Aku memukul-mukul dadanya. “I nappeun noma...bagaimana bisa
kau mengatakan maaf semudah itu...? Semuanya kacau...semuanya kacau karena
Oppa...”
“Apa-apaan gadis itu...? Menangis di saat seperti ini?
Benar-benar memalukan...” Ucap seorang penari.
Suho dan Baekhyun, yang berada di dekat penari itu mendelik
ke arah wanita itu tajam. Penari di sampingnya mencubit pinggang wanita itu.
“A!”
“Jangan membuat keributan!”
“Arasseo...”
***
*Author PoV*
“Beruntung sekali...Jongin-nie..” Ujar Chanyeol yang
tercenung melihat Hyora menangis di pelukan Kai. Cemburu? Jelas.
“Aku....sudah membunuh banyak orang...aku ini pembunuh...”
Isak tangis Hyora di pelukan Kai.
“Kau gila ya? Bukan kau yang membunuh mereka...mereka yang
memilih untuk mengakhiri nyawa mereka. Jadi jangan pernah berpikiran bahwa kau
adalah pembunuh...”
“Sama saja...semua karena aku...karena sihir terkutuk yang
kumiliki...seharusnya aku mengikuti keinginan mereka....seharusnya aku mati...”
Semua anak EXO menahan amarah mereka. Sehun yang tak tahan
dengan pemandangan di depannya berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut.
“Kumohon jangan berbicara seperti itu...pikirkan orang-orang
yang tulus sayang padamu, mereka akan sangat tersiksa kalau kau berbicara
seperti itu...pikirkan aku...!”
“Tulus? Bukankah semua karena sihir? Apa Jongin benar-benar
bodoh? Mana ada yang akan dengan tulus menyayangi gadis terkutuk itu?”
Suho lagi-lagi mendelik ke arah penari tersebut. Teman di
sampingnya sekali lagi mencubit pinggangnya.
“Mwo? Benar kan yang kukatakan?”
“Tetap saja...ini bukan saat yang tepat!”
“Kenapa aku harus seperti ini? Semua yang kulakukan hanya
menyiksa banyak orang...apapun itu...aku tak pernah bisa melakukan sesuatu
dengan benar!” Ucap Hyora sembari terus menangis di pelukan Kai.
“Dia tak mau orang lain tersiksa? Hebat sekali...”
“YA!” Suho menatap penari yang mengatakan hal tersebut
dengan penuh amarah. “Sekali lagi kau buka mulutmu kau mati!”
“Kau sama saja sepertiku...apapun yang kulakukan, aku tetap
tidak bisa tidak membuatmu tersiksa...bahkan saat ini, aku tak tahu apa yang
harus kulakukan untuk menenangkan hatimu...yang ada hanya rasa bersalah. Karena
itu, jangan menyiksa dirimu, kalau kau tak ingin menambah 1 orang lagi yang
tersiksa karenamu.”
Tidak bisa Oppa...aku
bahkan tidak bisa berhenti menyiksa diriku... batin Hyora yang lalu memeluk
tubuh Kai erat.
***
*Author PoV*
Yura menatap Soonwoo yang sedang duduk di depannya lalu
mengembangkan senyumnya. Mereka sedang berada di Hollys Coffee, Soonwoo yang
meminta Yura datang ke sini.
“Jadi apa yang ingin Soonwoo-ssi bicarakan denganku?” Tanya
Yura sembari menyeruput kopinya.
“Han Hyora...kau mengenalnya, kan?” Tanya Soonwoo sembari
berusaha keras menahan amarahnya saat menatap gadis di hadapannya. Wanita ini...jelas dia yang mengkambing
hitamkan Hyora.
“Jalang itu? Tentu saja aku mengenalnya.” Ucap Yura sembari
tersenyum tipis.
“Jalang?” Soonwoo mengepalkan telapak tangannya. “Bukankah
julukan itu lebih pantas untukmu?”
“Mwo?” Tanya Yura, dia lalu tersenyum tak percaya. “Keurae,
salahku yang mengucapkan hal itu di depan pria tampan sepertimu. Lalu apa maumu? Kau memanggilku untuk
mewawancaraiku, kan? Seharusnya kau siap dengan apa yang akan kukatakan tentang
Hyora, bukannya termakan oleh cinta terkutukmu itu.”
“Aku bukannya termakan oleh emosiku.” Ujar Soonwoo. “Karena
itulah kenyataannya. Kau tahu kau tak bisa terus menyembunyikannya, kenyataan
kalau sebenarnya kaulah yang menginginkan sihir itu. Beberapa waktu yang lalu,
kau bersama Hyora datang ke tempat seorang paranormal, kan? Hyora meminta
ramuan untuk membuat Taemin jatuh cinta, dan kaulah yang meminta ramuan untuk
membuat semua pria tampan jatuh cinta padamu.”
Yura terdiam, wajahnya memerah.
“Melihat reaksimu sepertinya apa yang kukatakan benar. Entah
bagaimana, ramuan itu tertukar. Dan kau, pelaku utama dibalik semua kekacauan
ini, malah bersembunyi dan mengkambing hitamkan Hyora dari sesuatu yang tidak
pernah dia inginkan.”
“Aku tidak...” Yura
gemetar. “Mengkambing hitamkan Hyora! Dia sendirilah yang memilih untuk
mengkambing hitamkan dirinya sendiri! Dia sendiri yang mengaku kalau dia yang
menginginkan semua ini, bukan siapa-siapa! Karena itu, aku tidak memiliki
pilihan lain selain membenarkan perkataannya!”
“Karena dia memang seperti itu!” Bentak Soonwoo dengan nada
sedikit gemetar karena amarah. “Dia merasa bersalah dengan sesuatu yang bahkan
tidak pernah dilakukannya, dia sangat merasa bersalah sehingga memilih untuk
mengakhiri kehidupannya! Gadis seperti itu, tidak mungkin memiliki pikiran
untuk datang ke tempat seorang paranormal busuk hanya karena menginginkan cinta
seorang pria. Pasti kau yang memaksanya, kan?”
“Benar! Aku yang memaksanya!” Seru Yura yang lalu meneteskan
air matanya. “Kau pikir aku juga tidak merasa bersalah? Aku merasa sangat
bersalah dengan apa yang telah kulakukan, aku merasa sangat bersalah sehingga rasa-rasanya aku ingin mengakhiri
hidupku. Aku juga seperti itu! Tapi kalau aku melakukan hal yang sama dengan
Hyora, reaksinya akan berbeda. Semuanya akan membenciku, tidak ada orang yang
sudi untuk melindungiku. Berbeda dengan Hyora, dia memilikimu! Memiliki seluruh
pria tampan yang dengan senang hati melindunginya! Karena kalian cinta mati
dengannya! Dan karena dia akan baik-baik saja meski aku telah mengkambing
hitamkannya. Karena itulah, aku tidak memiliki pilihan lain untuk
menyembunyikan kenyataannya! Kau pikir aku tidak cukup tersiksa!!?”
Yura lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar
dari Hollys Coffee, meninggalkan Soonwoo seorang diri. Sedangkan pria itu
sedang berusaha mati-matian menahan amarahnya, menahan keinginan kuat dari
dalam dirinya untuk membunuh wanita itu. Hyora-ya,
aku telah menahannya dengan cukup baik, kan?
***
*Author PoV*
“Taemin-ah, biar kutanyakan sekali lagi...tidakkah kau
merasa aneh? Kamu yang disukai oleh Hyora malah tidak ikut terkena sihir itu
dan jatuh cinta pada Yura. Pasti ada sesuatu dibalik itu..!” Ucap Onew pada
Taemin yang sedang tiduran di sofa sembari membaca buku.
“Molla. Aku tidak sedang ingin bermain detektif-detektifan
dengan Hyung.” Seru Taemin malas.
“Ini masalah hidup mati seseorang! Karena itu jawab
pertanyaanku! Seperti apa rasa cintamu dengan Yura? Apa semakin hari kau
semakin rindu dengan gadis itu? Apa semakin kau melihatnya semakin kau merasa
gila karena rasa cintamu padanya?”
“Entahlah. Aku tidak sampai separah itu.” Ujar Taemin
berbohong.
“Ya, akuilah kalau kau memang merasakan hal itu imma!”
“Bukankah sudah kubilang? Aku tidak sampai separah itu
Hyung. Lagipula kalaupun aku memang seperti itu kenapa?”
“Kalau kau memang seperti itu...ada kemungkinan Hyora
sebenarnya datang ke tempat paranormal itu bersama Yura dan Hyora meminta
ramuan untuk membuatmu jatuh cinta padanya sedangkan Yura sebaliknya, dialah
yang sebenarnya meminta ramuan untuk membuat semua pria tampan jatuh cinta
padanya. Dan entah bagaimana ramuan mereka tertukar. Tidakkah kau merasa aneh?
Hyora yang jatuh cinta padamu malah memilih untuk membuat semua pria tampan
kecuali dirimu jatuh cinta padanya. Mungkinkah...Yura yang sebenarnya berada di
balik semua ini?”
“Hyung, tak usah berkata omong kosong. Yura bukan gadis
seperti itu!”
“Justru karena kau berkata seperti itu aku lebih curiga lagi
padamu. Kau membela Yura bahkan meskipun Yura mungkin adalah gadis sejahat yang
kupikirkan. Terlebih lagi, kau mulai jatuh cinta pada Yura di hari yang sama di
saat kita mulai jatuh cinta pada Hyora. Sangat mencurigakan bukan?”
“Hyung, aku sudah jatuh cinta dengan Yura lama sebelum
kalian jatuh cinta pada Hyora. Hyung saja yang berpikir kalau aku jatuh cinta
pada Yura di hari yang sama dengan Hyung jatuh cinta pada Hyora. Karena itu
berhentilah sok tahu!” Kata Taemin yang mulai marah. Kembali berbohong.
“Kau sedang berusaha menolaknya, kan? Menolak kemungkinan
kalau Yura adalah wanita sejahat itu...” Ujar Onew yang menatap Taemin tajam.
“Kalau apa yang kupikirkan itu benar, aku benar-benar tak akan memaafkan
Yura..”
“Apapun yang kukatakan pada Hyung akan selalu salah, kan?
Kalau itu hanya asumsi Hyung jangan terlalu yakin akan hal itu! Yura, dia bukan
seseorang seperti seorang gadis jalang yang bermimpi ingin menarik hati banyak
orang!”
“YA!” Onew lalu menarik kerah Taemin dan menatapnya penuh
amarah. “Kalau asumsiku ternyata benar, berarti gadis jalang itu adalah Yura! Dan
aku yakin, Hyora, dia bukan gadis sejalang itu! Jadi untuk saat ini aku akan
melepaskanmu, karena aku tidak merasa seseorang itu adalah Hyora!”
Onew melepas genggamannya di kerah Taemin dan melangkah
memasuki kamarnya. Onew berhenti melangkah. “Wartawan Korea, mereka tidak
sebodoh apa yang kau pikirkan. Saat asumsiku ternyata benar, saat itu terjadi,
kau tahu siapa seseorang itu, kan?”
Dia lalu melanjutkan langkahnya lagi. Sedangkan Taemin
melempar buku yang sedang dibacanya kesal. Yura...kau
tidak mungkin seperti itu, kan?
***
*Author PoV*
Yura sedang duduk di meja makan bersama keluarganya,
perkataan Soonwoo masih terngiang-ngiang di benaknya. Artikelnya...pasti akan keluar, kan?
“Makan yang banyak, hari ini Eomma memasak masakan kesukaan
kalian!” Ucap Eommanya sembari meletakkan sangku nasi ke atas meja.
“Jal meokgesseumnida!” Seru adik Yura, Yujun dengan semangat
lalu menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
“Aigoo~ Yujun-ku benar-benar lucu! Saat kau besar nanti, kau
pasti akan tumbuh menjadi pria yang sangat tampan!” Kata Eomma Yura sembari
mencubit pipi Yujun.
“Tapi aku tak mau tumbuh dewasa.” Ujar Yujun sembari
menyendokkan sesuap kimchijigae ke dalam mulut kecilnya.
“Wae?” Tanya Eomma Yura terkejut.
“Kalau aku tumbuh dewasa, aku akan terkena sihir itu! Sihir
yang akan membuatku jatuh cinta dengan penyihir itu!”
Yura meletakkan sendok yang tadi diangkatnya.
“Penyihir? Penyihir yang mana?” Tanya Eomma Yura sembari
mengusap nasi di pipi Yujun.
“Mollayo Eomma? Penyihir itu...! Dia penyihir yang benar-benar
jahat! Dia membuat hubungan pacar kakak temanku jadi hancur! Karena dia juga
banyak orang yang bunuh diri! Benar-benar jahat! Masa Eomma tidak tahu? Namanya
Han Hyo...Hyo...”
“Han Hyora?” Ucap Eomma Yura kemudian.
“Eo itu dia Han Hyora! Aku terus menerus bermimpi buruk
bahwa suatu saat nanti aku akan jatuh cinta dengan penyihir jahat itu! Karena
itu aku tak mau tumbuh dewasa!”
“Jinjja? Kau bahkan bermimpi buruk? Yaa~ Han Hyora gadis
itu..! Jahat sekali dia membuat anak kesayanganku ini bermimpi buruk!”
“Jal meogeosseumnida..” Kata Yura yang lalu berdiri dari
meja makan dan melangkah menuju kamarnya.
“Yura-ya! Eodika? Kau bahkan belum menyentuh makananmu!
Yura-ya!”
***
*Author PoV*
“Kau tidak menyerah dengan kasus Junghwan ya?” Tanya
Jinhyeong pada Hongbin, polisi yang menginterogasi Sohee beberapa waktu yang
lalu.
“Tentu saja.” Ucap Hongbin sembari membaca berkas kasus
kecelakaan keluarga Junghwan beberapa tahun yang lalu.
“Ya, kusarankan kau harus berhati-hati! Orang yang terlibat
dalam kasus itu, dia itu bukan orang sembarangan. Kalau kau sampai ketahuan
melakukan kesalahan, kau bisa dipecat imma!”
“Aku sudah mengetahuinya..karena itulah aku sedang
berhati-hati.”
“Kenapa kau tidak menyerah saja? Tidak akan mudah
menyelidiki kasus ini, lagipula ketua sendirilah yang menyuruhmu untuk
membebaskan orang itu karena bukti yang kita miliki hanyalah kesaksian dari
orang yang sudah meninggal..”
“Kesaksian dari orang yang sudah meninggal itu...adalah
surat terakhir yang ditulisnya sebelum meninggal! Karena itulah aku tidak
mungkin mengabaikannya begitu saja. Apa Hyung akan berbohong pada detik-detik
terakhir sebelum Hyung meninggal? Tidak, kan? Itu bukti yang sangat kuat.”
“Karena itu...ketua pasti benar-benar menghormati orang tua
Sohee itu sehingga menyuruhmu untuk lepas tangan dari kasus ini...”
“Karena itu..! Aku takkan menyerah sampai kebenarannya
terungkap! Jadi Hyung lebih baik berhenti berbicara sekarang, aku sedang
melihat data hasil autopsi ayah Junghwan...”
“Untuk apa?”
Hongbin menatap Jinhyeong tajam, laki-laki itu kemudian
menutup mulutnya.
“Asa! Aku mendapatkannya! Sekarang tinggal memeriksa yang
satu lagi!” Hongbin lalu mengambil jaketnya dan berjalan keluar dari kantor
polisi.
“Ya! Eodika?”
“Kantor CCTV!” Seru Hongbin cepat.
“Untuk apa? Bukankah kau sudah mendapatkan CCTV saat
kecelakaan itu terjadi? Hongbin-ah!”
***
*Author PoV*
Yura berjalan melewati gerbang sekolahnya. Baru selangkah
dua langkah, murid-murid di sekelilingnya mencuri pandang padanya dengan wajah
jijik.
“Menjijikkan...bagaimana bisa seseorang mengkambing hitamkan
temannya seperti itu?”
“Biar bagaimanapun juga kehidupannya akan hancur, kan?
Jalang seperti itu...dia bahkan tak pantas hidup...”
“Apa yang kalian lihat?” Tanya Yura sembari menatap
murid-murid di sekelilingnya dengan mata memerah. “APA YANG KALIAN LIHAT,
HAH??”
Beberapa murid di sekelilingnya tertawa.
“Dia marah...jalang itu.”
“Aku kasihan padanya. Tidak akan ada orang yang akan
membelanya seperti Hyora. Semua akan membencinya bukan begitu? Sebentar lagi
sepertinya aku bisa menghadiri upacara kematiannya.”
“Kudengar seluruh sasaeng fans mulai mentargetkannya? Dia
benar-benar akan mati...”
Yura menggigit bibir bawahnya dan terus berjalan menuju
kelasnya. Meskipun dia mati-matian mengabaikan pembicaraan orang-orang tentangnya
tetap tidak bisa. Dia menangis.
Begitu sampai di kelasnya, murid-murid di kelasnya
menatapnya dengan tatapan yang sama dengan mereka yang menatapnya sepanjang
perjalanannya menuju kelas.
“Mengerikan sekali...tidak kupercaya aku sekelas dengan
pembunuh...”
“Pembunuh? Kau pikir yang dia lakukan hanya merenggut nyawa
dan kebahagiaan seseorang? Dia itu pengkhianat...mengkambing hitamkan temannya
seperti itu...bisa-bisanya dia juga ikut membullynya...merasa bersalah katanya?
Kenapa dia tidak sekalian menghabisi nyawanya saja?”
“Sebentar lagi juga dia akan melakukannya. Jangan
merendahkan sasaeng fans, mereka bisa melakukan apa saja untuk membuatnya
melakukan hal itu..”
Yura berusaha mengabaikan omongan orang-orang di kelasnya
begitu dia menyadari bangkunya tidak ada di tempatnya.
“Lihat, dia sudah menangis seperti itu...”
“Ini bahkan bukan apa-apa..”
“SIAPA YANG KALIAN BICARAKAN, HAH!!?” Teriak Yura dengan air
mata mengalir deras. “Kalian ingin aku bunuh diri?? Aku bisa melakukannya
sekarang juga!!”
“Buktikan kalau begitu! Kau hanya besar dengan kata-katamu
saja...” Ucap Hyeri menatap Yura tajam.
“Rasa bersalah katamu? Kau hanya tak tahan dengan siksaan
yang mungkin akan kau hadapi...yang sekarang sedang kau hadapi!”
“Lakukan kalau begitu! Tak ada yang akan menghalangimu...!”
“Ya...tapi kalau dia bunuh diri di sekolah kita apa nama
sekolah kita tidak akan tercemar?”
“Tenang saja, dia hanya besar dengan kata-katanya saja...”
Yura, yang matanya sudah benar-benar memerah, melangkah
keluar dari kelas.
Yura menyusuri koridor sekolah sembari terus menerus
menghapus air matanya.
‘Buktikan kalau
begitu! Kau hanya besar dengan kata-katamu saja...’
Ani...tidak boleh
berakhir seperti ini...belum...ini belum saatnya aku mati...
Yura sampai di lapangan sekolah. Disana, terdapat meja dan
kursinya yang sudah penuh dengan coretan dan ukiran tangan bertuliskan jalang,
pengkhianat, pembunuh, monster dan sebagainya. Dia menghampiri bangkunya dan
menyeretnya kembali ke kelas. Saat sudah sampai di koridor, dia dihalangi oleh tangan
seorang pria yang menyentuh tembok. Yura menoleh, Lee Jinki.
“Sepertinya kau sudah hidup dengan sangat bahagia ya? Nona
pembunuh?” Ujarnya sembari menatap Yura penuh kebencian.
“Apa maumu?” Tanya Yura dengan nada gemetar. Air mata
mengalir deras dari matanya.
“Tak kusangka kau jauh lebih lemah daripada
kelihatannya...hanya diperlakukan seperti ini saja dan kau sudah menangis
seperti anak kecil? Tidakkah kau malu dengan dirimu sendiri? PIKIRKAN APA YANG
SUDAH KAU LAKUKAN DENGAN SEMUA ORANG!!!”
Yura tersenyum. “Mworago? Semua orang? Jangan berlagak
peduli! Kau hanya memikirkan Han Hyora, kan? Bagaimana gadis tercintamu itu
tersiksa karena aku? Kau...sama saja dengan semua laki-laki lain-”
“Benar! Aku memang hanya peduli pada gadis itu! Tapi siapa
yang sudah membuatku menjadi orang yang sangat menyedihkan? Kau, bukan? Siapa
yang sudah membunuh mereka yang menjadi korban karena sihir itu? Kau, bukan?
Siapa-”
“Keurae! Itu aku! Lalu kenapa? Apa maumu? Kau mau
membunuhku? Lakukan kalau begitu! Itu maumu, kan?”
Mata Jinki memerah. “Kalau aku memang benar-benar ingin
membunuhmu kau sudah berpisah dari jasadmu sekarang! Kau sangat tidak pantas
dengan kedamaian yang mungkin akan kau dapatkan setelah kau mati...karena itu,
hiduplah...hidup dengan siksaan yang memang sepantasnya untukmu...kudengar
semua sasaeng fans mentargetkanmu? Kuharap mereka melakukan tugas mereka dengan
sangat baik....”
Jinki melepas tangannya dari tembok dan berjalan menjauh
dari Yura. Gadis itu menangis. Lihat apa
yang telah kau lakukan? Seharusnya kau tidak mengajak Han Hyora! Semua jadi
berakhir kacau seperti ini!
***
*Author PoV*
“SEBENARNYA APA SAJA YANG KALIAN LAKUKAN!!?” Teriak Sohee
pada seluruh pengawalnya. Dia melempar bantal dan guling dan apa saja yang ada
di sekitarnya ke pengawal-pengawalnya.
“Joesonghamnida...”
“YANG KALIAN BISA LAKUKAN HANYA MEMINTA MAAF?? AKU MUAK
MENDENGARNYA!! Han Hyora, HARUSNYA GADIS ITU YANG JADI TARGET KEBENCIAN SEMUA
ORANG!! Para laki-laki tampan itu saja sudah membuatku kesusahan, TAPI APA
INI!!?” Sohee mengamuk. Tidak terkendali.
“Nyonya...sepertinya paranormal yang telah membuat sihir itu
memiliki sihir untuk membunuh ataupun menyiksa Hyora secara
perlahan...kusarankan Nyonya untuk membeli ramuan dari paranormal itu...”
“Apa kau baru saja memerintahkanku??” Seru Sohee sembari
melotot dengan mata memerah menatap pengawalnya.
“Tidak, Nyonya...joesonghamnida...”
“Kalau kau bisa membuat Hyora tersiksa sampai mati LAKUKAN
SENDIRI!! KENAPA AKU HARUS MEMINTA BANTUAN DARI SEORANG PARANORMAL BUSUK YANG
BISA DENGAN CEROBOHNYA MENUKAR RAMUANNYA SENDIRI?? KAU KEMANAKAN OTAKMU??
Paranormal itu...sepertinya dia merasa bersalah dengan apa yang telah
dilakukannya pada Hyora, dia sama sekali tidak mau memberikan ramuan cinta
untuk membuat Hyora jatuh cinta pada lelaki manapun! Jadi mana mungkin dia akan
memberikan ramuan semacam itu pada kita? KAU MAU KEHILANGAN PEKERJAANMU??”
“Tidak Nyonya...joesonghamnida...”
Sohee berteriak stress. Para pengawalnya semakin menundukkan
kepala mereka.
***
*Author PoV*
Yura melangkah memasuki apartemennya dengan wajah lesu. Air
matanya sudah benar-benar kering.
“Aku pulang...”
Dia melihat ke seluruh penjuru ruangan. Eommanya sedang
menyiapkan makan malam dan adiknya sedang asyik menggambar di ruang tengah.
Yurapun melepas sepatunya dan menghampiri adiknya.
“Yujun-ah...kau sedang menggambar apa?” Tanya Yura sembari
duduk di samping adiknya, tapi Yujun sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
“Ya, kacang kecil! Seharusnya kau menjawab saat Noonamu bertanya!”
Yujun lagi-lagi tak menyahut. Kepalanya lalu menoleh ke arah
pintu dan dia mengangkat suaranya. “Eommaa~ pintu depan terbuka!”
“Eo? Aneh, padahal aku yakin sudah menutupnya tadi...” Ucap Eomma Yura sembari berjalan ke arah
pintu depan dan menutupnya. Yura menelan ludah. Sekarang bahkan keluargaku...
“Eomma, aku lapar...apa makan malam sudah siap?” Tanya Yujun
sembari memegang perutnya.
Eomma Yura mencubit pipinya.
“Aigoo~ Yujunku sudah lapar rupanya! Makan malamnya sudah siap, kau bisa
ke meja makan sekarang, Eomma akan menyiapkan makanannya untukmu!”
“Okay!” Seru Yujun riang lalu berlari ke arah meja makan dan
duduk di kursi yang biasa dipakai Yura.
Itu kursiku...
Yura lalu duduk di kursi yang biasa diduduki Yujun. Dia
menatap keluarganya dengan tatapan nanar. Di
antara semua orang, kenapa kalian harus melakukan ini juga padaku?
Eomma Yura lalu menyiapkan makanan untuknya dan Yujun. Tapi,
sama sekali tidak ada piring untuk Yura.
“Eomma, piringku?” Tanya Yura, tapi tak ada yang
menyahutnya. Dia lalu meneteskan air mata yang sudah lelah dikeluarkannya dan
berjalan menuju kamarnya.
Di kamar...
Yura memakan mawar dengan membabi buta. Sudah 5 tangkai
mawar dilahapnya, tetapi dia tidak mau berhenti.
Kalau seperti ini kau
akan semakin mencintaiku, kan? Lee Taemin? Kau harus mencintaiku! Lebih dalam
dari siapapun juga!! Apa yang kau lakukan? Aku jelas-jelas tersiksa seperti ini
tapi apa yang kau lakukan?? Benar-benar tidak berguna! Kau juga harus tersiksa
sepertiku! Tidak boleh...aku tidak boleh mati sampai memastikan sihir yang
kumiliki tidak akan mati!
***
*Han Hyora PoV*
Aku sedang melamun sendirian di kamar hotelku. Ya,
sendirian. Sepertinya pihak SM Entertainment khawatir akan penari lain yang
mungkin akan membullyku sehingga mereka memberiku kamar terpisah, dengan kasur
yang hanya untuk diriku sendiri. Banyak yang kulamunkan, misalnya: mereka yang
sudah meninggal karenaku, mereka yang tersiksa karena sihirku, tempat apa yang
akan kupilih untuk mengakhiri hidupku, dan banyak lagi. Yah, pikiran-pikiran
seperti itu yang kuyakini akan terus menyiksa diriku. Aku akan merasa lebih
bersalah lagi kalau aku berhenti memikirkan itu. Dan aku sedang memilih waktu
yang tepat untuk berhenti memakan mawar saat pintu kamarku terbuka. Aku lupa
menguncinya. Kai memasuki kamarku.
“Oh Oppa...” Ujarku yang lalu duduk di kasurku.
“Tak usah duduk, tiduran saja seperti yang kau lakukan
tadi...aku hanya sedang ingin berada di sampingmu.” Katanya sembari tersenyum
manis. Akupun melakukan perintahnya, dia tiduran di sampingku. Jelas membuat
jantungku berdebar kencang.
“Oppa, neo mwohae?” Tanyaku kaget.
“Tenang saja...” Ucapnya sembari tersenyum evil. Aku jelas
ingin bangkit dari tempat dudukku. Kai menahanku dengan tangannya.
“Mau kemana kau?” Tanyanya sembari tertawa. “Tenang saja.
Aku hanya bercanda. Aku tidak akan melakukan apa-apa denganmu, hanya sedang
ingin berada di sampingmu.”
Aku ragu sebentar sebelum akhirnya memilih untuk kembali
tiduran di sisinya.
“Anak baik...” Ujar Kai sembari tersenyum manis dan membelai
rambutku. “Lagipula apa yang kau takutkan? Kita ini sudah pacaran...”
“Ah Oppa!!!”
“Bercanda...aku hanya bercanda..” Ucap Kai masih dengan
senyum manisnya.
“Aku ini masih sekolah, kalau terjadi apa-apa denganku
bagaimana??”
“Kalau begitu tidak apa-apa kan kalau kau sudah lulus dari
sekolahmu?”
“OPPA!!”
“Arasseo...arasseo...” Tukas Kai lalu mencubit pipiku. “Anak
ini...kenapa jam segini kau belum tidur?”
“Hanya tidak bisa tidur...”
“Kau tidak sedang memikirkan sesuatu yang membuatmu
tersiksa, kan?” Tanya Kai sembari menatapku penuh selidik.
“Tentu saja tidak!” Bantahku berbohong. “Oppa sendiri?
Kenapa Oppa belum tidur?”
“Mana bisa aku tidur? Kau terus menerus menempel di
pikiranku! Dan mengetahui kenyataan kalau kau sedang berada di dekatku
membuatku benar-benar gila, ara?” Ucap Kai yang lalu menarikku ke pelukannya.
“Mian...”
“Untuk apa kau minta maaf? Kau sudah membuatku merasakan
kebahagiaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya...”
Tapi aku...akan
membuat Oppa merasakan penderitaan yang belum pernah Oppa rasakan sebelumnya...
***
*Author PoV*
Yura meminum air putih di kamarnya sembari menelan seluruh
mawar yang telah dimakannya dengan air mata mengalir. Harus...kau harus tersiksa seperti siksaan yang kuterima! Taemin Oppa,
karena hanya kau orangnya kau harus merasakan siksaan ini...
Yura lalu berdiri dari tempat duduknya, menghapus air
matanya dan bersiap pergi ke acara Mnet M!Countdown.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar