Title
: Love Disaster (Part 7)
Scriptwriter
: HanaYuki13
Main
Cast : Kai EXO, Key SHINee, and OC.
Genre
: Fantasy, Romance, Tragedy, School Life.
Length
: Series
Rating
: PG-15
Summary
:
Harusnya aku tidak pernah meminumnya….
Harusnya aku tidak pernah…
Pandangan mataku kabur. Samar samar, aku melihat bayangan hitam.
Dewa
kematian kah? Sudah kuduga…dia akan datang…
*Author PoV*
Taemin sedang diam di tempat duduknya. Pikirannya kalut
sejak pagi tadi. Kenyataan kalau Yura adalah dalang di balik semua ini jelas
membuatnya stress. Tidak ada member yang mengusiknya, mereka tahu Taemin sedang
tidak ingin diganggu.
“Hyung, sekarang jam berapa?” Tanya Taemin pada Key.
“Eo? Sekarang...jam 7 lebih 20 menit, wae?”
Taemin semakin gusar. “Bukankah Yura harusnya sudah datang
sekarang?”
“Eii...tenang saja! Gadis itu mungkin hanya terjebak macet.
Sebentar lagi dia pasti datang. Kau hanya harus menunggu...”
7 menit kemudian...
“Yura...kemana gadis itu??” Seru Choi Jin sembari melihat
jam dengan perasaan cemas. Taemin, tanpa mengatakan apa-apa lagi segera berdiri
dan berlari keluar dari ruangan backstage. “TAEMIN-AH!! TAEMIN-AH EODIKA??”
***
*Author PoV*
“AAH OPPA!! TAEMIN OPPA!!”
Teriakan-teriakan orang-orang di jalan sama sekali tidak
dipedulikan Taemin. Laki-laki itu terus berlari menelusuri kota Seoul.
‘Nomor yang Anda tuju
sedang tidak aktif...’
Taemin hampir-hampir menangis. Jelas-jelas Yura sedang
berada dalam bahaya.
2 jam kemudian...
“Hahh...hahh...hah...” Taemin bersandar pada sebuah gedung
tua. Dia sudah hampir menyerah. Yura...dimana
kau sebenarnya??
Taemin lalu mendengar suara isak tangis seorang perempuan.
Dia berdiri dan mengikuti suara tersebut yang menuntunnya ke sebuah gang buntu.
Dia lalu melihat seorang wanita yang sedang meringkuk di gang tersebut,
kurangnya cahaya membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas wajah wanita
tersebut. Taemin menghampiri wanita tersebut dan jongkok di depannya, dia dapat
melihat wanita tersebut berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan baju yang
berceceran di tanah dengan tangan gemetar.
“Agassi, gwaenchanayo? Apa yang terjadi?” Tanya Taemin pada
gadis itu.
“Berisik...” Ucap wanita itu dengan nada gemetar. Taemin
membelalakkan matanya. Suara ini...
Taemin lalu mengambil handphonenya dan menyalakan senter
untuk melihat wajah wanita itu lebih jelas. Wajahnya memucat. Kim Yura.
“Yura-ya...” Taemin gemetar. Dia lalu memegang kedua bahu
Yura dengan air mata menggenangi matanya. “Yura-ya, apa yang terjadi?
Neo...kenapa kau seperti ini?”
“Apa matamu buta? KAU JELAS-JELAS MELIHATKU SEPERTI INI LALU
UNTUK APA KAU BERTANYA??” Teriak Yura dengan air mata mengalir.
“Mianhae...mianhae karena aku terlambat menyelamatkanmu...”
“Lihat apa akibat dari keterlambatanmu! HIDUPKU HANCUR!! Apa
yang sebenarnya bisa Oppa lakukan??” Bentak Yura dengan air mata mengalir
deras. Taemin memeluknya.
“Mianhae...mianhae Hyora-ya...” Ucap Taemin sembari
menangis.
Yura memukul dada Taemin dengan tangannya yang gemetar.
“Untuk apa kau menangis?? LEBIH BAIK KAU MEMBUNUHKU SEKARANG!!”
Taemin terdiam, dia memeluk Yura makin erat. Perempuan itu
lalu meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Taemin.
“AAAAAAAAAA!!! BUNUH AKU
SEKARANG! Keluargaku bahkan menganggapku tidak ada! TIDAK ADA YANG MENGINGINKAN
AKU LAGI DI DUNIA INI!! AKU INGIN MATI!!”
“Lalu bagaimana denganku??
Kalau kau mati lalu bagaimana denganku?”
“Terus kalau aku tidak
mati bagaimana denganku, HAH?? Aku benar-benar tersiksa...bagaimana aku bisa
hidup dengan rasa sakit yang kumiliki??”
“Semuanya akan
berlalu...pasti! Semua orang akan melupakan hal ini karena dari awal mereka
tidak pernah peduli! Karena itu, kumohon bertahanlah...”
“APA YANG BISA KAU
LAKUKAN?? Kau bahkan tidak ada di saat mereka memperkosaku...kau bahkan tidak
ada saat mereka tertawa-tawa melihat penderitaanku...APA YANG BISA KAU
LAKUKAN??”
“Mianhae
Yura-ya...mianhae...”
Lebih baik kau bunuh aku sekarang...aku pria tak berguna...
Yura berteriak sembari
menangis tak terkendali. Sedangkan Taemin, memeluk Yura dengan air mata
mengalir deras. Seperti itulah, gang buntu itu menjadi saksi bisu tangisan
mereka berdua.
***
*Han Hyora PoV*
Aku terbangun di pagi hari mendapati Kai sedang tertidur di
sampingku dengan wajah yang sangat dekat denganku. Maju 1 cm lagi maka aku bisa
mencium bibirnya. Aku membelalakkan mataku dan menjauhkan kepalaku dari kepala
Kai.
Tidak...tidak terjadi
apa-apa, kan?
Aku melihat tubuhku. Masih terbalut dengan baju. Lengkap. Aku menghembuskan nafas lega. Ingatanku
kembali memutar kejadian tadi malam, Kai dan aku mengobrol sampai larut malam
dengan aku berada di pelukan Kai. Yang dilakukannya hanya membelai rambutku.
Untung tidak terjadi apa-apa. Aku baru saja ingin bangun dari kasur ini saat
Kai memelukku erat.
“O..Oppa...kau sudah bangun?”
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara nafas Kai.
“Oppa, kalau kau sudah bangun lepaskan aku...kita harus
segera berangkat ke bandara...”
Lagi-lagi hening. Aku menghembuskan nafasku. Belum bangunkah? Batinku yang lalu
kembali berusaha melepas pelukan Kai tanpa membangunkannya. Aku hampir saja
berhasil saat pria itu kembali memelukku erat dan meletakkan kaki kirinya di
atas kakiku. Dia mengunciku. Tubuhku membeku. Jantungku berdegup kencang.
Hening beberapa saat. Aku gugup setengah mati saat kudengar
suara hembusan nafas.
“Kau itu benar-benar menggemaskan, ara? Kenapa jantungmu
sampai berdetak sekencang itu? Aku bahkan belum melakukan apa-apa...”
“Oppa...!” Aku mengerutkan wajahku. Segera kucubit perut
pria itu sekuat tenaga.
“Aww! Apeo!” Serunya kemudian. Aku terus mencubit pria itu
dengan membabi buta.
“Siapa yang kau bilang menggemaskan, hah? Jantungku berdetak
kencang juga karena Oppa memelukku seperti itu! Dan apa maksud Oppa dengan
‘belum melakukan apa-apa’ eo?? Apa itu berarti Oppa akan melakukan sesuatu
padaku...??” Bentakku sembari tak henti-hentinya mencubit Kai.
“Aa...aa...keumanhae!!”
Aku menghiraukan ucapannya. Kai lalu berusaha memegang kedua
tanganku dan menahannya. Dia lalu mendorongku sampai aku tertidur dan posisinya
berada di atasku dengan kedua tangannya menahan kedua tanganku. Hening. Aku
menelan ludah melihat wajah pria itu.
Kai mendekatkan wajahnya padaku. Dia menutup matanya. Oh tidak... Jantungku berdegup kencang,
akupun menutup mataku. Dan aku sudah dapat merasakan hembusan nafasnya saat
kudengar pintu kamarku terbuka. Seseorang masuk ke dalamnya.
“Jongin-ah...”
Aku membuka mataku. Kai tidak bergeming. Bibirnya sudah
hampir menempel dengan bibirku. Dia gila
ya?? Aku langsung mencubit perut pria itu sekuat tenaga. Dia membuka
matanya dan meringis kesakitan.
“Ah wae??” Protesnya padaku. Aku lalu menunjukkan seseorang
yang memasuki kamarku dengan kepalaku. Kai menoleh.
“Junmyeon hyung...” Ucap Kai sembari menatap Suho. Dia lalu
menjauh dariku dan berdehem pelan.
“Ya, anak-anak sudah bersiap untuk pergi ke
bandara...Youngjun hyung sudah menunggu di mobil. Apa yang kau lakukan malah
berpacaran disini?” Tukas Suho dengan wajah kusut. Kai lalu turun dari kasur
dan menghampiri Suho.
“Mian hyung...kaja!” Ajak Kai sembari meletakkan tangannya
di bahu Suho.
Lebih baik aku juga
bersiap-siap sekarang...
***
*Author PoV*
Yura terdiam setelah menangis dan mengamuk selama berjam-jam
di pelukan Taemin. Lelah. Taemin selama itu tidak bergeming dan sama sekali
tidak melepas pelukannya. Hatinya sakit. Serasa dicabik-cabik oleh ribuan
pedang. Dia tidak ingin kehilangan Yura, juga tidak ingin wanita itu tersakiti
lebih dalam lagi. Tapi apa daya? Yang dia miliki hanya seonggok daging berbalut
kulit dengan dua tangan dan kaki yang tak mampu melindungi wanita tercintanya.
Pria terkutuk.
Kepala Yura bersandar di dada Taemin. Tangannya tidak lagi
memberi perlawanan atau menggenggam erat baju Taemin. Taemin lalu melihat wajah
wanita tercintanya itu. Mata gadis itu terpejam. Yura tertidur.
Taemin lalu dengan hati-hati merapihkan baju wanita itu yang
acak-acakan, menyelimuti tubuh wanita itu dengan jaket miliknya dan
menggendongnya ala bridal style ke sisi jalanan. Menunggu taksi untuk datang.
***
*Author PoV*
Bel rumah Yura berbunyi. Buru-buru Eomma Yura menghampiri
pintu depan. Begitu dibukanya, wanita setengah baya itu membelalakkan matanya
begitu melihat seorang Idol Korea sedang berdiri di depan rumahnya sembari
menggendong anaknya yang sedang tertidur.
“Omo...Taemin-nie?” Tanya Eomma Yura sembari menutup
mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya. Taemin menatap wanita itu
sembari menahan amarahnya yang memuncak.
“Annyeonghaseyo...” Ucapnya sembari berusaha tersenyum pada
Eomma Yura.
“Ada urusan apa...?”
“Boleh aku masuk dulu? Ahjumma tidak akan bertanya apa yang
digendong olehku, kan?” Ujar Taemin tajam.
“Tentu saja...mana mungkin aku tidak mengenali anakku
sendiri? Masuk...silahkan masuk...kamar Yura ada di atas...” Ucap wanita itu
agak gugup lalu mempersilahkan Taemin masuk. Begitu sampai di ruang tengah,
Yujun yang sedang asyik menggambar menoleh ke arah Taemin dan Eommanya.
“Eomma...nuguya? Kenapa tangannya diangkat seperti itu?”
Tanya Yujun pada Eommanya.
“Apa maksudmu? Jelas-jelas dia sedang menggendong kakakmu!”
Seru Eomma Yura sembari melotot menatap Yujun, dia lalu mengembangkan senyumnya
pada Taemin dengan gugup. “Mari ikuti saya.”
Taemin menaiki tangga dan memasuki kamar Yura lalu
menidurkannya di atas kasur. Eomma Yura melihat pergelangan tangan Yura yang
memerah dan baju anaknya yang kusut dengan tampang bingung. Taemin, yang juga
baru melihatnya, meneteskan air matanya.
“Kalau saya boleh tahu, apa yang terjadi dengan Yura?” Tanya
Eomma Yura pada Taemin.
“Dia....diperkosa.” Ucap Taemin. Hatinya serasa
dicabik-cabik begitu dia mengatakannya.
“Omo...” Eomma Yura
menutup mulutnya yang menganga. Air mata menggenangi matanya. “Bagaimana
bisa...?”
“Sasaeng fans mengincarnya sejak artikel tentangnya
dipublikasikan. Seharusnya Ahjumma melindungi anak Ahjumma saat sedang dalam
bahaya. Bukannya semakin memperparah keadaannya. Dia memohon padaku untuk
mengakhiri hidupnya saja tadi...” Ujar Taemin pada Eomma Yura dengan nada
gemetar karena amarah. Wanita setengah baya itu meneteskan air matanya.
“Yura-ya... Aigoo uri Yura-ya....Yuraku yang
malang...bagaimana ini bisa terjadi padamu...??” Eomma Yura menangis sembari
mengusap-usap dadanya.
“Joesonghamnida...ini salahku juga...harusnya aku
menyelamatkannya tadi...tapi...aku terlambat menemukannya..” Kata Taemin yang
juga ikut menangis, dia lalu memegang kedua lengan Eomma Yura dari belakang.
“Lebih baik kita keluar, Yura bisa terbangun kalau kita berisik di sini...”
***
*Han Hyora PoV*
Aku melangkah menyusuri bandara Incheon begitu kusadari
orang-orang di sekitarku memperlakukanku jauh berbeda dari saat aku berangkat
ke Brazil. Mereka tidak lagi mengeluarkan handphone mereka maupun
memperlakukanku seperti hantu. Beberapa dari mereka bahkan tidak melirikku sama
sekali. Apa mereka ingin membullyku
dengan cara lain?
“Itu orangnya...Han Hyora.” Bisik seorang perempuan yang
lewat di depanku pada temannya sembari melirikku sekilas.
“Tapi aku heran bagaimana dia akan mengatasi sihir itu...tak
ada cara lain selain berhenti memakan mawar, kan?” Bisik seorang pria pada
adiknya yang sedang memakan camilan.
“Aku juga tidak tahu...mau bagaimanapun juga akan tetap ada
yang dikorbankan, kan?”
Kenapa mereka tidak
menatapku dengan penuh kebencian seperti dulu? Batinku yang lalu
mengarahkan pandangan mataku pada seorang pria yang sedang mendengar musik
sembari bersender pada tiang bandara. Dia tampan, tapi sepertinya berwatak
dingin. Mata tajamnya menatapku tanpa berkedip. Kami bertatapan. Buru-buru aku
menyembunyikan mukaku walau aku tahu itu percuma.
“Yaa~ aku tak menyangka ternyata dalang di balik semua ini
adalah temannya sendiri...benar-benar tak punya hati...”
Temanku? Jangan-jangan...Yura??
“Tetap saja...aku kasihan dengan temannya...dia diperkosa
kan?”
Wajahku memucat. Diperkosa??
Mwoya? Apa yang mereka bicarakan?
“Itu tidak ada apa-apanya dibanding nyawa-nyawa yang
melayang akibat perbuatannya. Nyawa para fans Idol Korea, mereka yang
kehilangan kekasih mereka, juga para pria tampan yang tersiksa dengan cinta
mereka...kau pikir betapa menderitanya keluarga mereka?”
“Benar juga...”
Apa ini?? Sebenarnya
apa saja yang kulewatkan selama aku di Brazil?? Kenapa tidak ada satu orangpun
yang memberitahuku tentang ini??
***
*Author PoV*
Hongbin tersenyum melihat rekaman CCTV di depannya. Di sana
diperlihatkan beberapa wanita berjas hitam membius keluarga Junghwan dengan
sapu tangan sebelum mereka memasukkan keluarga Junghwan ke mobil. Salah satu
dari wanita itu lalu menyuntikkan alkohol ke dalam tubuh ayah Junghwan dan
mobil itu dioperasikan agar dapat berjalan. Adegan selanjutnya tentu saja:
mobil keluarga Junghwan terjatuh ke jurang. Benar-benar direncanakan dengan
sempurna. Dibuat seolah-olah ayah Junghwan sedang dalam keadaan mabuk saat
mengendarai mobilmya. Min Sohee. Pasti mereka adalah suruhan wanita itu.
Sekarang yang harus Hongbin lakukan hanyalah menyelidiki
orang-orang itu dan membuktikan bahwa mereka adalah kaki tangan Min Sohee. Dan
semuanya akan terungkap...
***
*Author PoV*
“Yura-ssi...seperti apa wajah orang yang memperkosa anda?”
Tanya polisi. Ini sudah ketujuh kalinya dia mengulangi pertanyaan yang sama.
Yura, seperti yang dilakukannya sejak tadi, pandangan matanya kosong dan dia
tidak mengucapkan sepatah katapun. Wajahnya pucat. “Ibwayo Yura-ssi!”
“Ada 4 orang...” Ucap Yura akhirnya. Air matanya sudah
menggenangi matanya. “Keempat-empatnya bermata sipit yang menatapku dengan
penuh nafsu. Satu orang berhidung lebar dengan mulut yang juga lebar, memiliki
tahi lalat besar di pipi kanannya, wajahnya berbentuk kotak dan berkulit kusam.
Yang kedua bertelinga caplang, hidung bengkok, dan mulut kecil dengan gigi
tonggos dan memiliki bekas jerawat batu di kedua pipinya. Yang ketiga beralis
tebal, hidung membulat di ujungnya, mulut tebal, dan gemuk. Yang terakhir
memiliki kulit penuh bintik, hidung pesek, mulut tipis, dan kurus. Apa itu
cukup untuk menggambarkan mereka?”
“Kuat asumsi bahwa mereka diperintah oleh sasaeng fans...apa
itu benar?” Tanya polisi tersebut. Yura menganggukkan kepalanya. “Bisa beritahu
ciri-cirinya?”
“Dua-duanya adalah perempuan, satu orang memakai kacamata,
berwajah bulat dan mulut tipis...memiliki lipatan mata dan rambut blonde, dia
yang merekamku saat aku diperkosa. Satunya lagi, aku tidak begitu dapat
melihatnya dengan jelas karena dia menyembunyikan wajahnya menggunakan masker.
Yang kutahu dia memiliki mata sipit dan tahi lalat di belakang telinganya. Aku
dapat sedikit melihat tahi lalat itu dalam kegelapan karena dia menunjukkan
bagian belakang tubuhnya untuk memeriksa keamanan saat aku sedang diperkosa.”
“Rambutnya...? Bagaimana dengan rambut?” Tanya polisi itu
sembari menggerakkan tangannya di atas kepala.
“Orang yang berwajah kotak memiliki rambut gondrong, yang
bertelinga caplang berambut jabrik, yang beralis tebal berambut klimis dengan
rambut dibelah di bagian tengah, dan yang terakhir botak. Untuk wanitanya, yang
memiliki lipatan mata berambut sebahu dan yang satunya lagi rambut keritingnya
dikuncir tapi kurasa dia memiliki rambut sepinggang.”
“Baiklah, tim ahli digital forensik sketsa wajah(?) kami
akan menggambarkan sketsa wajah para pelaku dan menghukumnya secepat mungkin.”
Ucap polisi itu yang kemudian sibuk dengan komputernya.
“Yura-ya, bagaimana kau bisa melihat wajah mereka sedangkan
kau berada di gang gelap seperti itu?” Tanya Eomma Yura.
“Aku melihat mereka saat mereka menggiringku ke gang itu.”
Jawab Yura yang wajahnya masih memucat. Eomma Yura kemudian membelai rambut
anaknya dan mencium dahinya.
“Kau melakukannya dengan sangat baik. Eomma kaget melihatmu
sekuat itu.”
Yura tersenyum tipis.
***
*Han Hyora PoV*
Aku melangkah memasuki rumah Yura. Eomma Yura
mempersilahkanku masuk lalu menyuruhku duduk di ruang tamu.
“Yura-ya...turunlah dari kamarmu. Ada seorang teman yang
mencarimu!” Panggil Eomma Yura sembari berjalan ke dekat tangga.
“Nuguya?” Teriak Yura dari dalam kamar.
“Hanya seorang teman. Turunlah dan berikan salam. Dia
jauh-jauh datang untuk menjengukmu!”
Yura lalu muncul dari ruang tengah dan melihatku. Matanya
memerah, memancarkan kemarahan. Perempuan itu lalu berbalik dan hendak berjalan
menjauhiku.
“Yura-ya...” Aku menahan tangannya.
“Pergilah. Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu...”
“Kalau begitu...kapan aku bisa melihatmu lagi?” Tanyaku
padanya.
“Tidak usah datang lagi. Karena aku takkan pernah ingin
melihat wajahmu lagi.”
“Yura-ya, neo waeirae? Kita ini teman!”
“Mworago?” Yura menatapku dengan air mata yang menggenangi
matanya. “Chingu? Kau datang kesini sebagai temanku? Lalu apa yang ingin kau
katakan padaku hingga jauh-jauh datang ke sini sebagai teman? Menanyakan
kabarku? Menghiburku? Menguatkanku? Hajima...itu hanya akan membuatku semakin
muak padamu.”
“Yura-ya...”
“Jangan memanggil namaku dengan suara itu...jangan menatapku
dengan mata itu...kau mau menyombongkan dirimu? Membandingkanmu denganku yang
seorang pengkhianat? Keurae, aku memang berbeda denganmu! Aku bukanlah malaikat
bersayap putih yang rela mengorbankan dirinya untuk melihat kebahagiaan orang
lain! Aku seorang pengecut yang hanya mampu bersembunyi dan rela melakukan
apapun demi kebahagiaan diriku sendiri! Karena itu, jangan tunjukkan sayap
putihmu itu di depanku, aku muak melihat kesucianmu itu!” Ucap Yura yang lalu
menghempaskan tangannya dari genggamanku dan berjalan menjauh. Aku menatapnya
pergi sembari meneteskan air mataku.
Yura-ya...apa yang
sudah kulakukan padamu?
***
*Author PoV*
Taemin mengendap-endap di dormnya, dia melirik ke
sekitarnya, memastikan tidak ada orang yang melihatnya dan baru saja ingin
mengambil sepatunya saat lampu di ruangan itu menyala.
“Mwohae?” Tanya Onew sembari melipat tangannya di depan
dada.
“Hyung...” Taemin menurunkan sepatunya.
“Kembali ke kamarmu. Kau tahu kau tidak diperbolehkan keluar
dari dorm karena kabur dari Mnet M!Countdown sembari memakai semua kostum dan
make up itu, kan?” Ujar Onew tajam.
“A Hyung...jebal, sekali saja! Kau bisa menutup mulutmu dan
berpura-pura tidak melihatku keluar dari dorm ini! Aku bisa gila kalau terus
berada di dorm ini tanpa melakukan apa-apa! Hyung tahu apa yang terjadi pada
Yura, kan?” Pinta Taemin.
“Tetap saja tidak boleh! Kau pikir larangan dari SM
Entertainment hanya main-main? Masuk ke kamarmu!”
“Hyung, kau mengatakan hal itu seolah kau berbeda dariku
saja! Kalau kau sedang berada di posisiku dan Hyora yang diperkosa kau juga
akan melakukan hal yang sama, kan? Kau juga hampir-hampir memukul Kibum Hyung
karena melihat Hyora dibully, kan? Jangan sok melarangku!” Protes Taemin yang
lalu memakai sepatunya.
“Ya!” Onew menggenggam tangan Taemin erat. “Sudah kubilang
kembali ke kamarmu! Aku disini untuk menghentikanmu sama seperti saat Hyora
menghentikanku! Berpikirlah dengan akal sehatmu imma! Sasaeng fans ada di
mana-mana, sejak kejadian kamu kabur dari Mnet mereka semakin mengincar Yura! Semuanya
jadi semakin menggila! Yura bahkan tidak bisa keluar dari rumahnya sekarang
karena sasaeng fans sudah mengintai rumahnya! Keadaannya sudah seperti itu!
Pikirkan apa yang akan terjadi kalau kau pergi ke sana! Dan...ada apa dengan
tubuhmu? Kenapa bisa sepanas ini?”
Taemin terdiam dan berusaha melepas genggaman Onew. Gagal.
“Neo eodi apa?” Tanya Onew. Key dan Minho menghampiri mereka
berdua.
“Apa yang terjadi? Kenapa sangat berisik?” Tanya Minho. Dia
lalu melihat Taemin yang sudah memakai sebelah sepatunya. “Taemin-ah, kau mau
kabur lagi?”
Onew memegang dahi Taemin. Pria itu berdecak kesal.
“Hyung, na gwaenchana...!”
“Mwoya? Dia sakit?” Tanya Key.
“Sangat panas. Dengan suhu seperti ini kau harusnya sudah
merasa pusing. Kau gila ya? Dengan keadaan seperti ini kau malah ingin keluar!
Udara malam hanya akan memperburuk kesehatanmu! Kembali ke kamarmu, kau harus
dikompres.” Onew lalu menarik tangan Taemin kembali ke kamarnya.
“Hyung!”
“Ada-ada saja...” Gumam Minho yang kembali ke kamarnya.
***
*Han Hyora PoV*
“Eonni...aku harus berangkat ke Belanda untuk K-Pop Dream
Concert sore ini...” Ucap Hyora saat sedang sarapan bersama Hyomin.
“Keurae? Mendadak sekali...eotteokhae? Sore ini aku ada jam
kuliah...apa aku bolos saja untuk mengantarmu ke bandara? Eonni benar-benar
menyesal tak bisa mengantarmu ke Brazil karena harus ikut KKN (Kuliah Kerja
Nyata) kemarin.” Ujar Hyomin yang lalu memakan makanannya lagi.
“Tidak usah eonni...aku bisa berangkat sendiri. Kalau begitu
aku lebih baik siap-siap setelah ini.” Kata Hyora yang lalu menghabiskan
makanannya dan kembali ke kamarnya.
***
*Author PoV*
Sohee sedang berjalan-jalan di taman depan rumahnya bersama
beberapa bodyguardnya saat mobil polisi sampai di depannya. Sohee mengerutkan
alisnya.
“Mwoya? Mobil polisi? Siapa yang mengizinkan mereka masuk?”
Tanya Sohee pada bodyguardnya.
“Kami tidak tahu Nyonya. Kemungkinan mereka datang ke sini
untuk menginvestigasi Nyonya tentang masalah pembunuhan keluarga Junghwan.”
Jawab salah satu bodyguardnya.
“Apa aku bertanya kenapa mereka datang kesini?” Tanya Sohee
sembari menatap bodyguard tadi tajam.
“Tidak Nyonya, Joesonghamnida.”
“Kau harusnya memperbaiki mulut besarmu itu. Aku curiga
apakah kau membocorkan kenyataan kalau akulah yang memberi perintah untuk
membunuh keluarga Junghwan pada polisi-polisi itu...” Tukas Sohee yang kembali
menatap mobil polisi itu.
“Animnida Nyonya, saya tidak akan pernah berani...”
“Apa aku memintamu berbicara??” Sohee menatap bodyguard itu
kini dengan tatapan marah. Bodyguard itu menundukkan kepalanya. “KENAPA KAU
TIDAK MEMINTA MAAF??”
“Joe...joesonghamnida...”
Polisi-polisi itu kemudian menghampiri Sohee. Hongbin, pria
itu, menunjukkan surat yang berisi perintah penangkapan Sohee lalu mengangkat
suaranya. “Min Sohee-ssi, anda ditangkap karena telah terbukti melakukan
pembunuhan berencana kepada keluarga Junghwan.”
“M...mwo??” Seru Sohee dengan mata membelalak.
“Mohon untuk bekerja sama dengan kami...” Hongbin lalu
memborgol tangan Sohee.
“Mwoya?? Apa yang kalian lakukan?? Aku Min Sohee...MIN
Sohee!” Teriak Sohee sembari berusaha melepas cengkraman kedua aparat polisi
itu. “Ya! Apa yang kalian lakukan?? Mereka sedang menyeretku! Cepat lumpuhkan
mereka! Ya! Kalian ingin kehilangan pekerjaan kalian??”
Min Sohee, dengan segala kekuatannya gagal melawan para aparat
polisi itu. Dia lalu dimasukkan ke dalam mobil dan mobil itu berjalan keluar
dari halaman rumah Min Sohee.
***
*Han Hyora PoV*
Aku menatap gedung tua di depanku. Ini saatnya...lebih baik dia tidak menghentikanku seperti yang
dilakukan mereka... Aku memasuki gedung tersebut sembari menghembuskan
nafas.
Aku membuka pintu di depanku. Di dalamnya, seorang wanita
setengah baya sedang tertidur dengan kepala di atas meja. Begitu aku melangkah
masuk ke dalam, wanita itu mengangkat kepalanya, terdapat air liur di pinggir
mulutnya sampai ke dagu.
“Selamat datang...” Ucap wanita itu yang masih setengah
tertidur. Begitu dia memakai kacamata bulatnya, dia membelalakkan matanya
melihatku. “Oh, kau rupanya...mianhae, padahal aku sudah berjanji padamu untuk
tidak tertidur sampai menemukan ramuan penawarnya...”
Aku tersenyum lalu mengambil tempat duduk di depan wanita
itu.
“Ada urusan apa sampai kau datang ke sini lagi? Seperti yang
kau lihat, aku belum bisa menemukan ramuan penawarnya...”
“Aku punya permintaan...”
***
*Author PoV*
Kai mondar-mandir di sisi kamar hotelnya sembari menggigiti
jarinya dengan wajah cemas. Baekhyun yang sedang berusaha membaca buku di
genggamannya angkat suara.
“Ya! Neo mwohae? Dari tadi kau mondar-mandir seperti
itu...aku tidak bisa fokus membaca buku ini melihatmu, ara?” Protes Baekhyun
akhirnya.
“Hyung...aku punya firasat yang sangat buruk...”
“Mwo? Firasat buruk apa?” Tanya Baekhyun yang meletakkan
bukunya di dadanya.
“Han Hyora...” Ucap Kai yang lalu kembali terdiam, berhenti
mondar-mandir, matanya memancarkan kekhawatiran.
“Ada apa dengan Han Hyora? Bukankah dia sudah memberi tahu
pihak SM Entertainment dia tidak bisa ikut ke Belanda karena sedang sakit?”
“Masalahnya...handphonenya tidak aktif sejak tadi...”
“Jinjja? Bagaimana bisa? Kau tahu nomor telepon rumahnya?”
“Molla. Aku benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi
padanya...”
Baekhyun mengambil jaketnya. “Kalau kau sudah berkata
sesuatu seperti itu aku juga jadi tidak bisa tenang. Ikut aku, kita ke tempat
Youngjun Hyung.”
***
*Author PoV*
“Tidak bisa dihubungi?” Tanya Youngjun, dia menatap Kai dan
Baekhyun yang sedang berdiri di samping kasur tempat dia berbaring.
“Ne, Hyung. Aku benar-benar takut terjadi sesuatu
dengannya.” Ucap Kai yang terlihat benar-benar cemas.
“Kau tenangkan dirimu dulu. Aku akan menelepon SM
Entertainment, menanyakan nomor telepon walinya.” Tukas Youngjun yang lalu
mengambil handphone di samping tempatnya berbaring dan menekan beberapa nomor
kemudian meletakkan handphone itu di telinga. “Hyung...aku ingin meminta
tolong...Hyung tahu Hyora, kan? Han Hyora? Ne...Han Hyora yang itu...tolong
cari tahu nomor telepon walinya, ada urusan penting...ne ne...”
“Tunggu sebentar.” Ujar Youngjun pada Kai dan Baekhyun.
Mereka terdiam. Youngjun menanti suara dari seberang sana. Setelah beberapa
saat, dia kembali mengangkat suaranya. “Eo Hyung, sudah dapat? Tunggu
sebentar...kertas...ambil kertas dan pulpen!”
Baekhyun langsung melaksanakan perintah Youngjun, dia lalu
memberikan kertas dan pulpen itu pada Youngjun dan laki-laki itu duduk di
kasurnya lalu meletakkan kertas tadi di atas meja kecil di samping kasur dan
menggenggam pulpen yang diberikan Baekhyun. “Ne Hyung, kau bisa bicara
sekarang.......010...822...050...432...aku ulang lagi ya, 010-822-050-432..?
Ne, kamsahaeyo hyung! Aah...Belanda..? Yah...seperti biasa...”
Youngjun menyerahkan kertas itu pada Kai dan memerintahkan
dia dan Baekhyun pergi dengan tangannya sembari terus berbicara di telepon.
“Gomawoyo Hyung...” Kata Kai yang lalu pergi dari kamar
tersebut bersama Baekhyun.
***
*Author PoV*
“Yang kau maksud itu adikku?” Tanya Hyomin pada Kai yang
sedang berada di seberang telepon. “Tunggu sebentar...apa katamu tadi?
Bagaimana kabar adikku? Kau bisa bertemu dengannya di Belanda, kan? Untuk apa
bertanya padaku?”
“Bertemu di Belanda?
Apa maksudnya?” Tanya Kai bingung.
“Bukankah adikku menjadi penari latar di K-Pop Dream
Concert? Dia sudah berangkat sejak kemarin sore, apa belum sampai?”
Kai segera mematikan teleponnya.
“Isanghane...kenapa dia langsung menutup teleponnya seperti
itu? Untuk apa pula menanyakan adikku? Kenapa suaranya terdengar sangat
khawatir? Jangan-jangan...adikku tidak ada di Belanda??”
Hyomin yang cemas segera keluar dari rumahnya, mengunci
pintu depan dan segera berjalan entah kemana sembari menelepon nomor
teman-teman Hyora yang diketahuinya.
***
*Author PoV*
“Omo, itu Kai EXO, kan?” Tanya seorang gadis pada temannya
sembari menunjuk pria yang memakai masker yang baru saja keluar dari pintu
bandara.
“Majayo Kai EXO! Kenapa dia ada disini? Bukankah harusnya
dia masih ada di Belanda?” Sahut temannya.
“Molla, molla! Lebih baik kita cepat ambil gambarnya! Ini
kesempatan emas!”
Para gadis lalu mengerubungi Kai, yang meminta jalan
untuknya lewat. Teriakan histeris para gadis memenuhi telinga Kai. Pria itu
berdecak kesal. Setelah berbagai macam rintangan yang dia hadapi, akhirnya dia
bisa melewati semua gadis-gadis itu dan masuk ke dalam taxi. Tujuannya satu:
rumah Hyora.
***
*Author PoV*
“Jongin dimana??” Tanya Suho pada Baekhyun yang baru saja terbangun
dari tidurnya.
“Tidak ada?” Baekhyun bertanya balik dengan mata yang masih
setengah terpejam. “Barang-barangnya masih ada, harusnya dia ada di sekitar
sini.”
“Apa yang terjadi?” Tanya D.O yang memasuki kamar Kai dan
Baekhyun.
“Jongin tidak ada.” Jawab Suho yang mulai khawatir. “Ya, kau
kan sekamar dengannya bagaimana bisa kau tidak tahu dia dimana??”
“Mollayo Hyung, tadi malam sehabis konser dia langsung tidur
begitu saja dan aku yang juga sudah mengantuk pun ikut tidur...” Tukas Baekhyun
yang lalu terdiam, seperti baru ingat sesuatu.
“Kalau dia tidur kenapa bisa tidak ada paginya?”
“Hyung...” Panggil Baekhyun.
“Mwo?” Sahut Suho.
“Sebenarnya...tidak mungkin untuk Jongin tidur begitu
saja...”
“Apa maksudmu? Apanya yang tidak mungkin?” Tanya Suho bingung.
“Dengarkan aku dulu sampai selesai...! Hyora, dia beralasan
sedang sakit dan tidak bisa datang ke sini kan? Jongin meneleponnya kemarin,
dan handphone wanita itu tidak aktif. Kita lalu pergi ke tempat Youngjun Hyung
meminta nomor telepon walinya. Nah, saat menelepon kakak perempuannya, kakaknya
malah mengatakan kalau Hyora justru ada disini, kemarin sore dia bilang ingin
ke bandara karena mengikuti acara K-Pop Dream Concert ini...” Jelas Baekhyun
yang mendapat firasat buruk.
“Jadi kemungkinan dia pulang ke Korea lebih dulu untuk
mencari Hyora?” Tanya Suho. Baekhyun mengangguk. “DIA GILA YA??”
***
*Author PoV*
Paranormal itu benar-benar sibuk. Dari kemarin malam dia
tidak bisa tenang. Berbagai cara sudah dia lakukan tapi hasilnya nihil, dia
tidak bisa mendapatkan ramuan penawar dari ramuan cinta. Ini masalah hidup dan
mati. Han Hyora, wanita itu, 2 hari yang lalu mendatangi gedung ini dan
mengajukan sebuah permintaan padanya.
“Aku punya
permintaan...”
“Permintaan apa?”
“Aku...ingin kau
menyembunyikanku dari dunia.”
“Apa maksudmu?”
“Sembunyikan aku. Ke
tempat dimana dunia tidak bisa menemukanku. Aku ingin kau juga untuk tidak
memberikan 1 kelopak mawarpun padaku.”
“Maksud-”
“Apapun yang terjadi,
siapapun yang mencariku, berapapun uang yang mereka tawarkan padamu, jangan
beritahu mereka dimana aku...”
“Tunggulah lebih
lama...aku yakin aku bisa membuat ramuan penawarnya...”
“Sampai kapan? Sampai
kapan kau mau membuatnya? Kau pikir aku tidak tahu? Sudah banyak paranormal
yang mencoba dan tidak berhasil. Ramuan penawar itu, memang tidak akan pernah
ada. Karena itu aku ingin mengakhiri semua mimpi buruk ini...”
“Tetap saja-”
“Sudah banyak nyawa
yang melayang karena ulahku. Temanku bahkan....dia bahkan diperkosa karena
ini...aku juga terus dihantui perasaan dimana suatu saat nanti para pria itu
akan semakin gila karena ramuan itu. Karena itu, kumohon sembunyikan aku. Dan
jangan menghentikan kematianku. Itulah satu-satunya cara untuk mengakhiri semua
kekacauan ini.”
“Baiklah...”
Wanita itu berjalan mondar-mandir di dekat set botol dan
pipa kaca tempat dia biasa meracik ramuan. 1 hari lagi...deadlinenya 1 hari
lagi, aku harus menemukan ramuan penawarnya!
***
*Author PoV*
Kai memasuki gedung tua yang dari luar tampak tidak
berpenghuni. Satu dua langkah saat dia memasuki gedung tersebut, dia dapat
melihat sebuah pintu berwarna merah mencolok dengan gantungan boneka santet di
depannya. Pasti ruangan ini. Dia
berusaha membukanya. Terkunci. Kai lalu mengetuk pintu tersebut. Tidak ada
jawaban. Tapi tidak ada juga pemberitahuan kalau pemilik ruangan ini sedang
pergi untuk sementara waktu. Sial, kemana
perginya paranormal busuk itu??
“Ada urusan apa...”
Kai menoleh. Dia melihat seorang wanita setengah baya
berpakaian seperti dukun, berhidung bengkok, mulut melengkung ke bawah, kacamata
bulat, rambut keriting dikuncir dua, dan hiasan kepala di atasnya berdiri di
sampingnya. Pasti wanita ini.
Wanita itu berdehem pelan melihat Kai. Matanya melihat ke
kanan dan ke kiri, wajahnya berubah gugup. Dia
pasti sedang menyembunyikan sesuatu.
“Han Hyora...gadis itu dimana?” Tanya Kai yang matanya sudah
memerah.
Kenapa dia bisa
mengetahui tempat ini?
“DIMANA HAN HYORA!???” Teriak Kai sembari menarik kerah baju
wanita itu.
“M...molla. Siapa Han Hyora? Aku tidak mengenalnya..” Ucap
wanita itu gugup sembari berusaha keras menjauhkan kepalanya dari kepala Kai.
“Jangan berbohong! Kau pasti menyembunyikannya! Eodiya? Dia
dimana!!?” Bentak Kai sembari menggenggam erat kerah wanita itu dengan mata
memerah dan air mata menggenangi matanya.
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan! Siapa yang
kusembunyikan? Aku tidak merasa menyembunyikan siapa-siapa...!”
“Kau habis dari tempat gadis itu berada kan?? Jangan
berbohong! Katakan padaku dimana Han Hyora!”
“Sudah kubilang aku tidak tahu!” Jawab wanita itu berbohong.
Kai melepas genggamannya. Laki-laki itu lalu berlari ke arah dimana wanita itu
datang tadi.
***
*Han Hyora PoV*
Sebentar
lagi...tinggal sebentar lagi...
Aku mencoba menggerakkan jari-jariku. Hanya jari telunjuk
yang bisa kuangkat. 30 menit lagi aku mati. Tubuhku pasti sudah membiru. Air
mataku menetes. Wajah-wajah mereka yang terkena sihir itu memenuhi otakku.
Semuanya...mereka yang mencintaiku juga ikut memenuhi otakku. Eomma, Appa,
Hyomin Eonni, Kai, teman-temanku, semuanya...
Selamat tinggal...
“Hyora-ya...HYORA-YA!!”
Itu...itu suara Kai.
Aku berusaha menolehkan kepalaku. Tentu saja tidak bisa. Jangan...jangan sampai dia menemukanku...
“Hyora-ya!! Jebal...hentikan apapun yang sedang kau lakukan!
Yang kau lakukan itu perbuatan bodoh! Kau bisa mati! Jawab aku!! Selemah apapun
suaramu jawab aku! Kita bisa menyelesaikan ini bersama, jadi jangan bertindak
bodoh!!”
Suaranya...sangat
dekat.
“Hyora-ya...kumohon jawab aku....dimana kau? Kau pasti ada
di dekat sini, kan? HYORA-YA!!!”
***
*Author PoV*
Kai mengelilingi seluruh penjuru gedung tua itu sembari
berlari. Keringatnya mengalir bersamaan dengan air mata. Dia mempertajam
telinganya, kalau-kalau Hyora mengeluarkan suara lemahnya di gedung tua ini.
Tapi hal itu mendekati mustahil. Jadi dia mencari ke segala arah, mencari dan
mencari, tidak mempedulikan handphonenya yang sedari tadi berdering. Dia memang
ada jadwal sore ini, tapi Han Hyora jauh lebih penting. Kai, setelah seluruh
usaha yang dikeluarkannya, berteriak stress.
“WAE? Kenapa kau memilih keputusan ini?? Kau tahu aku akan
tersiksa seperti orang gila kalau kau melakukannya! Kenapa kau melakukannya,
HAH!!? Kau harus tetap hidup, bahkan meskipun ramuan penawar itu tidak akan ada
kau harus tetap hidup! Kalau kau mati, kau tahu apa yang akan terjadi padaku,
kan? Kau tahu apa yang akan kulakukan KAN??” Teriak Kai yang sudah jatuh
terduduk sekencang mungkin. Tidak ada jawaban. “Kenapa kau tidak menjawab??
JAWAB AKU!! Jangan membuatku terlihat seperti orang yang benar-benar
menyedihkan!! Jangan...jangan mati...”
Kai menangis sejadi-jadinya. Berteriak. Mengamuk. Melakukan
apapun untuk mengeluarkan seluruh emosinya, seluruh penderitaan yang
dirasakannya. Tapi tidak bisa. Sekeras apapun dia berteriak, sebanyak apapun
air matanya mengalir, hatinya tetap terasa sakit. Sangat sakit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar